Sabtu, 03 Maret 2012

PENGASUH ROSULULLAH SAW.

0 komentar
.


Rosululloh Hidup Bersama Ibundanya
    Saat kembali kepada ibunya Rosululloh diperkirakan umur 4 tahun,mulai saat itukecintaan ibunya dicurahkan sepenuhnya kepada beliau,selain karena kebagusan rupa dan budi pekerti serta tutur bahasanya beliau juga anak satu-satunya hasil buah cinta dengan suminya Abdulloh.
    Setelah beliau umur enam tahun,ibunya mengajaknya ke Yasrib,saat itu musim panas dan perjalanannya sejauh 400 km,ditemani oleh pembantu setianya Barokah ummu aiman.Yang dituju adalah perkampungan Bani Najjar,disinilah tempat tinggal para datuknya dan tempat ayahnya Abdulloh menghembuskan nafas terakhirnya menghadap sang Pencipta juga ditempat itu pula ayahnya dimakamkan.
    Sebulan lamanya Aminah beserta Rosululloh dan ummu aiman berada di Yasrib,banyak kenangan yang didapatkan oleh beliau,seelain cerita ibunya tenang kenangan indah bersama ayahnya miskipun hanya sekejap,juga saat beliau bermain main dengan teman sebayanya.Peristiwa ini pernah diungkapkan kepada sahabat-sahabatnya disaat beliau berhijrah ke Madinah setelah beliau menjadi Nabi.Sambil menuju ke lokasi tempat beliau bersama ibunya,beliau bersabda mengingat kenangan itu:”Disinilah aku tinggal bersama ibuku,dilokasi inilah dikuburkan ayahku,disinilah aku bermain dengan Anisah ( teman sebaya beliau),dan disanalah aku belajar dan pandai berenang.”

    Rosululloh adalah sosok manusia agung yang berbakti kepada orang tuanya dan penuh dengan kecintaan dan kasih saying,kenangan beliau dengan ibunya melekat erat dalam ingatannya,berbakti pada orang tua menjadi prioritas beliau,demikian suatu saat yang dikatakannya dengan para sahabatnya.Diriwayatkan ketika beliau melewati lokasi kuburan ibunya,beliau menziarahinya, memperbaikinya dan menangis,para sahabatnyapun ikut menangis,ketika ditanya sebab tangisannya beliau menjawab:”Aku disentuh oleh rahmat ibuku,maka aku menangis.”
    Abdulloh ibnu mas’ud ranmencerita bahwa:”Suatu ketika kami berjalan bersam Rosululloh hingga sampai di sebuah pemakaman,beliau meminta kami duduk,lalubeliau menuju ke satu kubur dan duduk,disana beliau berbisik,kemudian terdengar suara tangis beliau,kamipun ikut menangis,beberapa saat kemudian  beliau menghampiri kani dan disambut olah Umar ibnu Khothob  ra.dengan bertanya: apa yang menyebabkan engkau menangis ya Rosululloh? tangisanmu menyebabkan kami juga ikut menangis dan takut, Nabi menjawab: apakah tangisku menakutkan kalian? Tanya nabi berulang-ulang dan dijawab oleh Umar dengan berulang pula: Benar wahai Rasululloh. Kemudian Rosul Saw.menjawab: “Kubur  yang kalian lihat aku berbisik disana adalah kuburan ibuku Aminah, aku meminta izin kepada Alloh untuk menziarahinya,dan aku diizinkan-Nya….( HR.Muslim).

    Begitu cintanya belia terhadap ibunya, dan mengingat kasih sayangnya seorang ibu,sehingga beliau mempercepat sholatnya jika mendengar ada anak yang menangis,karena kasih sayangnya pada anak dan khawatir ibunya gelisah. Demikian perhatiannya beliau terhadap orang tua ,sampai-sampai beliau tidak mengizinkan seorang sahabat untuk berjihad, sementara masih punya orang tua yang masih dia urus,sahaabat itu diminta untuk kembali supaya berbakti kepada ibu bapaknya, demikian Bukhori dan Muslim dalam haditsnya.

Ibunda Aminah Wafat di perjalanan
     Diriwayatkan bahwa dalam perjalanan pulang dari Yasrib,cuaca sedemikian buruk,badai menerjang menghamburkan pasir dan debu sehingga mereka menghetikan perjalanan untuk istirahat sambil menunggu cuaca baik baru melanjutkan perjalanankembali,tempat mereka istirahat bernama Abwaa’ suatu desa yang berjarak sekitar 37 km dari kota Yasrib. Aminah merasaa kesehatannya terganggu,tadinya gangguan kesehatan ini tidak begitu dihiraukan karena dianggap segeraa pulih kembali,tetapi ternyata ini merupakan penyebab kematian ibunda Aminah.
    Dapatlah bisa kita bayangkan kesedihan Rosululloh saat itu,baru beberapa hari saja beliau mendengar keluhan dan kesedihan ibunya atas kematian ayahnya yang meninggal disaat beliau masih dalam kandungan ibunya, sekarang belia ditinggal wafat ibunya yang tercinta,yang mengakibatkan beliau menjadi yatim piyatu.

Rosululloh Dalam Asuhan Abdul Muththolib
    Sejak  Ibunya meninggal praktis tanggung jawab mengasuh dan memelihara beliau adalah kakeknya Abdul Muththolib, dia berusaha menggantikan kasih sayang ibu beliau.Abdul Mutholib adalah seorang tokoh Quraisyi yang sangat wibawa dan segani selain karena kedermawanannya dia juga sebagai sosok yang bijak dan merupakan kepala bagi seluruh penduduk Mekkah. Dengan kemulyaan dan kedudukan yang tinggi yang dimilikinya sampai anak-anaknyaoun tidak ada yang berani duduk dihamparan yang disediakan khusus untuknya di samping Ka’bah di dalam Masjidiil Haram.
    Kasih sayang Abdul Muththolib terhadap cucunya melebehi cinta dan kasih sayangnya terhadap anak-anaknya sendiri,itu semua dikarenakan Rosululloh adalah cucu satu-satunya anak dari putra kesayangannya Abdulloh.
    Ibnu Hisyam menceritakan dari Ibnu Ishaq berkata: Abdul Muththolib memiliki kursi di Ka’bah, anak-anaknya dudk disekitar kursi tersebut hingga dia datang kepadanya,tidak ada seorangpun anaknya yang berani duduk diatas kursi tersebut karena penghurmatannya tehadap ayahnya.Ketika itu Rosululloh yang masih kecil datang dan langsung menduduki kursi tersebut,melihat beliau duduk dikursi maka paman-pamannya mengambil beliau dari kursi tersebut,agar jauh dari Abdul Muththolib. Melihat perlakuan anak-anaknya  kepada beliau,dia berkata :”Jangan larang anakku duduk diatas kursi ini, DemiAlloh ,sesungguhnya dia akan memiliki  kedudukan yang Agung.”kemudian Abdul Mutholib duduk bersama beliau diatas kursinya,sambil mengelus punggung beliau dan senantiasa merasa gembira dengan apa yang beliau lakukan.
    Abdul Muththolib mempunyai harapan yang besar terhadap cucunya ini, apalagi dengan ketinggihan akhlak, budi pekerti dan kecerdasannya yang luar biasa, membuat Abdul Muththolib optimis bahwa cucunya besuk akan menjadi orang yang sangat terpuji dan menjadi Nabi yang memang sayup-sayup sering dia dengar bahwa akan datang seorang Nabi utusan, dia berharap cucunya itulah orangnya, sesuai harapannya sejak permulaan menamakan cucunya “Muhannad”, yang akan terpuji berkali-kali dilangit dan di bumi.
    Cinta kasih kakeknya yang tercurah pada diri Nabi Muhammad saw. Ditambah dengan cinta kasih ibunda sebelumnya sayangat berpengaruh dalam mengisi kekosongan hatinya dari cinta kasih sang ayah yang sudah lama meninggal, bahkan sejak beliau masih dalam kandungan ibunya.
    Walaupun tidak setiap saat Rosululloh tidak ditemani oleh kakeknya Abdul Muththolib karena kesibukan dan usianya, namun masih ada peran yang sangat penting, seorang pengasunh yang setia menemani dan melayani beliau yaitu, Barokah Ummu Aiman. Ummu Aiman selalu mendapat pesan dari Abdul Muththolib yang isinya : “Wahai Barokah ( Ummu Aiman), jangan lengah terhadap anakku, aku pernah mendapati anakku ini bermain-main dengan anak-anak di Sidrah. Orang Yahudi menduga anakku ini Nabi umat ini.”  Benar tidaknya riwayat ini yang pasti dalam asuhan kakeknya  beliau mendapatkan curahan kasih sayang dan perhatian yang sangat darinya.

    Jasa Ummu Aiman terhadap pengasuhannya terhadap Rosululloh juga punya arti yang sangat penting, sampai Rosulullohpun pernah bersabda: “Dia ibuku setelah ibuku.”
    Ummu aiman tidak pernah dilupakan oleh Rosululloh, bukan  saja karena jasanya mengasuh beliau, tapi juga sosoknya yang selalu mengingatkan kepada ibunya dan ayah beliau, Abdulloh, karena memang Ummu Aiman mulanya hamba sahaya milik ayah beliau, yang kemudian dimerdekakan oleh beliau setelah perkawinan beliau dengan Sayidah Khodijah ra. Salah satu bukti cinta dan balas jasa Nabi saw. kepada Ummu Aiman, beliau mengawinkannya dengan mantan anak angkatnya Zaid ibn Haritsah.

Abdul Muththolib Wafat
    Rosululloh tidak lama dalam asuhan kakeknya, kakeknya wafat tidak lama setelah dia menunjuk pengganti pengasuhan dan bertanggung jawab kepada cucunya yang sangat dicintainya, sebagai bukti betapa besar perhatiaan Abdul Muththolib kepada beliau, maka ditunjuklah salah satu paman beliau yang bernama Abu Tholib.Dia inilah nanti yang akan betanggung jawab terhadap Muhammad setelah dia wafat, kendati Abu Tholib bukan anaknya yang berkecukupan harta dan memiliki banyak anak, bukan kepada Abbas yang lebih kaya dan merupakan saudara kandung Abdulloh ayah Muhammad saw.
    Rosululloh saw. ditinggal meninggal kakeknya dalaam usia delapan tahun, berarti hanya dua tahun belia dalam asuhannya. Kepergian san kakek sangat menyedihkan beliau, seperti waktu beliau ditinggal ibunya.
    Wafatnya Abdul Muththolib bukan hanya meninggalkan kesedihan Rosululloh saw. saja melainkan kepada keluarga besar Quraisyi, bahkan seluruh panduduk Mekkah sangat kehilangan sosok pamimpin yang begitu dermawan, bijaksana, tegaas dan wibawa. Kebergian sang kakek membuat Muhammad saw. sering banyak merenung, diam dan sedikit bicara, dan ini menjadi perangai beliau berlanjut sampai dewasa dan mengantarkan pada kesenangannya menyendiri di Gua Hira.

Rosululloh Dalam Asuhan Sang Paman
    Juga seperti ayahnya Abdul Mutholib, Abu tholib mencurahkan kasih sayangnya kepada Muhammad saw. melebihi cinta dan kasih sayangnya kepada anak-anaknya sediri, padahal anaknya benyak empat laki-laki dan dua perempuan yaitu : Tholib, Aqil, Ja’far, Ali, Fatihah dan Jumayah. Kasih saying kepada Muhammad saw. selain dia yatim piyatu juga karena memang sejak kecil memiliki budi pekerti yang luhur juga kecerdasan yang lebih dibandingkan anak-anak sebayanya, kalau makanan sudah dihidangkan anak-anak Abu tholib segera melahapmya, tetapi Muhammad saw. tetap tenang ,karena merasa malu atau mengalah. Diriwayatkan bahwa Abu Tholib sering tidur sepembaringan dengan beliau. Suatu ketika Abu Tholib mau mengadakan perjalanan ke Syam tanpa membawa keponakannya itu, karena kasihan bila ada kesulitan di perjalanan, tetapi Muhammad saw. kecil senantiasa merengek untuk bisa ikut pamannya pergi ke Syam, akhirnya hati Abu Tholib saangat tersentuh dan mengabulkan permintaan beliau, ambil mengatakan kapanpun dia mengadakan perjalanan beliau akan selalu  para disertakan membersamainya.

    Walaupun Abu Tholib sangat menyayanginya, namun beliau tidak pernah manja kepadanya, kebiasaan saat beliau berada dalam asuhan Halimah untuk mengembalakan kambing milik seseorang dengan imbalan yang tidak seberapapun beliau selalu lakukan hingga usia dewasa. Satu ketika beliau menyatakan bahwa para Nabi itu mengembalakan kambing. Belliau ditanya “apakah beliau juga pernah mengembala kambing? Beliau menjawab : “Ya, aku pernah mengembalakannya milik penduduk mekkah dengan imbalan beberapa qirath.” ( HR. Bukhori ).

    Beliau tidak pernah merasa rendah diri dengan pekerjaan itu. Memang “para Nabi sebelum diutus, mengembalakaan kambing,” mengembalakan kambing bisa menjadi sarana pendidikan jiwa yang sangat berarti, disana pengembala bisa belajar membimbing dan mengantar kejalan yang benar, serta menghindarkan dari jalan yang berbahaya/keliru, disamping mendidik si pengembala untuk bisa sabar dan tabah dan melimpahkaan kasi saying kepada “gembalaan”nya.

Leave a Reply

Followers

 
Yayasan Az-Zahra Perwira © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here