No Isbal = Yes and Isbal = No
Buat Wanita Muslimah
keutamaan Menghafal Al-Quran
Pacaran Boleh ngax ya?
No Isbal = Yes And Isbal = No
Telah kita saksikan hari ini, perkara yang dianggap remeh oleh sebagian manusia yaitu menurunkan...Baca Selanjutnya
Buat Wanita Muslimah
Jadi, para wanita semakin banyak berada di rumah, akan semakin baik kondisi umat manusia...Baca Selanjutnya
Keutamaan Penghafal Al-Quran
Dengan Kita menghafal Kita Akan Dimualiakan.....Baca Selanjutnya
Pacaran Boleh Ngax yaa?
Tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat. Sedang ta'aruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.Baca Selanjutnya
Sabtu, 12 Januari 2013
Hakikat Sifat Malu
Categories :
Dari Abi Mas'ud al-Badri radhiallâhu 'anhu, dia
berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " Sesungguhnya
diantara ucapan kenabian pertama (Adam) yang didapat oleh manusia (dari generasi
ke generasi-red) adalah: 'jika engkau tidak merasa malu maka perbuatlah apa yang
engkau inginkan' ". (H.R.Bukhari)
Catatan:
Mushannif menyebutkan bahwa nash hadits seperti diatas adalah riwayat Bukhari,
namun persisnya adalah sebagai berikut (tanpa kata al-Badri radhiallâhu 'anhu
dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam seharusnya dalam nash di shahih
Bukhari adalah an-Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ):
Takhrij hadits secara global
Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Bukhari,
ad-Daruquthni, Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, ath-Thabrani dan lain-lain.
Makna Hadits secara
global
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menyatakan
bahwa ucapan kenabian pertama (Adam 'alaihissalam) yang terus menerus didengar
dari generasi ke generasi adalah "bila engkau tidak merasa malu maka perbuatlah
apa yang engkau inginkan".
Penjelasan Tambahan
Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam :
"Sesungguhnya diantara ucapan kenabian pertama (Adam 'alaihissalam ) yang
didapat oleh manusia (dari generasi ke generasi-red)" diatas mengisyaratkan
bahwa ucapan ini ma'tsur (merupakan atsar) dari para nabi terdahulu, diwarisi
dan selalu diperbincangkan oleh orang-orang dari abad ke abad. Ini artinya,
bahwa kenabian terdahulu memang telah mengenal ucapan ini dan masyhur di
kalangan manusia hingga sampai kepada orang pertama dari umat ini. Statement
semacam ini didukung oleh sebagian riwayat hadits, yang berbunyi:
"manusia-manusia terdahulu tidak mengenal ucapan kenabian pertama yang lain
kecuali ucapan ini". (dikeluarkan oleh Humaid bin Zanjawaih, dan selainnya).
Makna sabda beliau : "jika engkau tidak merasa malu maka perbuatlah apa yang engkau
inginkan"
Mengenai maknanya terdapat dua pendapat:
Pertama: kalimat tersebut bukan mengandung pengertian boleh berbuat sesuka
hati, akan tetapi bermakna adz-Dzamm (celaan) dan an-Nahyu (larangan). Dalam
mengimplementasikan pengertian diatas, terdapat dua cara :
Cara pertama: bahwa amr (perintah) tersebut
bermakna: at-Tahdid wal wa'iid (ultimatum dan ancaman keras). Jadi maksudnya:
jika engkau tidak memiliki rasa malu maka lakukanlah apa yang engkau inginkan
sebab sesungguhnya Allah akan mengganjar perbuatanmu tersebut, seperti dalam
firman Allah: "Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan. (Q.,s. 41/Fushshilat:40). Dan firmanNya: "'Maka
sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia.
(Q.,.39/az-Zumar:15). Dan seperti makna hadits yang hanya ditautsiq (didukung
kualitas sanad dan matannya) oleh Ibnu Hibban: "Barangsiapa yang menjual khamar
(arak) maka hendaklah dia memotong-motong babi (baik untuk dijual atau
dimakan)". Maksudnya : barangsiapa yang menghalalkan penjualan khamar/arak maka
hendaklah terlebih dulu menghalalkan penjualan babi sebab kedua-duanya sama-sama
diharamkan. Jadi disini ada perintah namun pengertiannya adalah larangan. Dan
banyak lagi contoh-contoh yang lain; pendapat semacam ini adalah pilihan
sekelompok ulama, diantaranya: Abul 'Abbas, Tsa'lab.
Cara kedua: bahwa amr (perintah) tersebut bermakna:
al-Khabar (pemberitaan). Jadi maksudnya: barangsiapa yang tidak memiliki rasa
malu, dia akan melakukan apa saja yang dia inginkan. Sebab sesungguhnya yang
mencegahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk adalah sifat malu; orang
yang tidak memiliki sifat ini, maka dia akan tenggelam ke dalam setiap perbuatan
keji dan munkar dan orang yang seperti ini hanya bisa tercegah dari melakukannya
bila dia memiliki rasa malu. Sepadan dengan makna ini adalah hadits Nabi
Shallallahu 'alaihi wasallam yang shahih: "barang siapa yang berdusta kepadaku
maka hendaklah dia menyediakan tempat duduknya di neraka". Lafazh hadits ini
berupa amr (perintah) namun maknanya adalah al-Khabar (pemberitaan) yakni bahwa
orang yang berdusta terhadap beliau maka dia sudah menyediakan tempat duduknya
di neraka. Pendapat ini adalah pilihan Abu 'Ubaid, al-Qaasim bin Sallaam,
Ibnu Qutaibah, Muhammad bin Nashr al-Marwazi, dan selain mereka. Abu Daud
meriwayatkan dari Imam Ahmad yang mengindikasikan pendapat seperti ini juga.
Kedua: kalimat tersebut mengandung pengertian ; perintah untuk melakukan apa
yang dia inginkan sesuai dengan makna lafazh tersebut secara zhahirnya. Jadi
artinya: apabila apa yang ingin engkau lakukan termasuk perbuatan yang tidak
perlu merasa malu untuk melakukannya baik dari Allah maupun manusia karena ia
merupakan perbuatan keta'atan/kebajikan atau akhlaq yang baik dan etika yang
dianggap baik; maka ketika itu perbuatlah apa yang ingin engkau lakukan.
Pendapat ini dikemukakan oleh sekelompok ulama, diantaranya Abu Ishaq
al-Marwazi asy-Syafi'i, dihikayatkan pendapat sepertinya dari Imam Ahmad,
terdapat juga dalam sebagian manuskript ringkasan kitab "masaail Abi Daud",
begitu juga seperti yang dihikayatkan oleh al-Khallal dalam kitabnya "al-Adab".
Diantaranya perkataan sebagian Salaf ketika mereka ditanyai tentang definisi
al-Muruuah : "bahwa engkau tidak melakukan sesuatu yang engkau malu melakukannya
secara terang-terangan (sama malunya) di waktu engkau dalam kesendirian".
Ungkapan ini sama dengan makna hadits "dosa adalah apa yang terbetik dalam
hatimu sedangkan engkau takut orang lain mengetahuinya" (penjelasan tentang
hadits ini telah kami tampilkan pada pembahasan yang lalu). Ada beberapa hadits
yang senada dengan makna penjelasan diatas yang dipaparkan oleh Mushannif,
diantaranya hadits dari Usamah bin Syuraik yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban
dalam kitabnya "Shahih Ibni Hibban": dari Usamah bin Syuraik, dia berkata:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "sesuatu yang Allah benci
darimu (untuk dilakukan), maka janganlah engkau lakukan juga bila engkau sedang
sendirian".
Klasifikasi sifat malu, kedudukan dan
keutamaannya
Klasifikasinya dan kedudukannya
Sifat malu ada dua macam:
Pertama, sifat malu bawaan yang tidak didapat melalui proses ; ini merupakan
akhlaq yang paling mulia yang Allah karuniakan kepada hambaNya, oleh karena
itulah dalam sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dikatakan: "sifat malu
tidak membawa selain kebaikan" sebab ia akan mencegah orang yang memilikinya
untuk melakukan perbuatan yang buruk-buruk dan hina serta mendorongnya untuk
menggunakan akhlaq yang mulia. Sifat ini merupakan bagian dari iman bila
implikasinya terhadap pemiliknya demikian. Al-Jarrah bin 'Abdullah al-Hikami,
salah seorang pahlawan penunggang kuda dari Ahli Syam, berkata: "aku tinggalkan
dosa-dosa karena malu, selama empat puluh tahun; ternyata aku dapati kemudian
sifat wara' ".
Kedua, sifat malu yang didapat melalui proses ma'rifatullah (mengenal
Allah), keagunganNya, kedekatanNya dengan hamba-hambaNya, pengawasanNya terhadap
perbuatan mereka serta ilmuNya terhadap apa saja yang tersembunyi di hati
manusia. Ini merupakan bagian keimanan yang paling tinggi bahkan merupakan
tingkatan ihsan paling tinggi, seperti dalam sabda Nabi Shallallahu 'alaihi
wasallam kepada seorang laki-laki: "berlaku malu lah engkau kepada Allah
sebagaimana engkau malu kepada salah seorang keluargamu yang paling shalih".
Keutamaannya
Diantara keutamaan sifat malu adalah:
·
Sifat malu adalah sifat yang
dicintai oleh Allah; sebagaimana dalam hadits
yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, an-Nasai dari hadits al-Asyajj al-'Ashri, dia
berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku:
"Sesungguhnya engkau memiliki dua sifat yang dicintai oleh Allah". Aku bertanya
kepada beliau: 'apa itu?'. Beliau bersabda :"sifat lemah lembut (al-Hilm) dan
sifat malu". Aku bertanya lagi: 'sifat yang sudah lama (melekat padaku) atau
yang baru?'. Beliau menjawab dengan sabdanya: "bahkan yang sudah lama". Aku
berkata (pada diriku): 'alhamdulillah Yang telah menganugerahkan kepadaku dua
sifat yang dicintai oleh Allah'. Begitu juga dengan apa yang dikatakan oleh
seorang shahabat, Salman al-Farisi: "Sesungguhnya bila Allah menginginkan
kehancuran/kebinasaan bagi seorang hambaNya, maka Dia akan mencabut dari dirinya
sifat malu, dan bila sudah dicabut sifat tersebut dari dirinya maka dia tidak
akan menemuiNya kecuali dalam kondisi dia amat dimurkai dan murka, dan bila dia
sudah dalam kondisi demikian maka akan dicabut dari dirinya sifat amanah lantas
dia tidak akan menemuiNya kecuali dalam kondisi dia dicap sebagai pengkhianat
dan orang yang dikhianati, dan bila dia sudah menjadi pengkhianat dan orang yang
dikhianati maka akan dicabut dari dirinya sifat rahmah (sifat belas kasih)
lantas dia tidak akan menemuiNya kecuali dalam kondisi dia memiliki sikap keras
dan berhati kasar, dan apabila dia sudah dalam kondisi demikian maka akan
dicabut sebagian iman dari tengkuknya, dan bila sudah demikian maka dia tidak
akan menemuiNya kecuali dalam kondisinya yang telah menjadi syaithan yang
dilaknat dan suka melaknat".
·
Sifat malu merupakan bagian dari
iman; sebagaimana dalam hadits yang shahih
dari Ibnu 'Umar radhiallâhu 'anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam
lewat di depan seorang laki-laki yang mencerca saudaranya yang memiliki sifat
malu, dia (orang tersebut) berkata: "sesungguhnya engkau ini amat pemalu",
seakan dia mengatakan (ungkapan ini berasal dari perawi hadits-red);"..ia (sifat
malu tersebut) telah membahayakan dirimu". Lantas kemudian Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "biarkanlah dia! Karena sesungguhnya
sifat malu itu adalah sebagian dari iman". (H.R.Bukhari, Muslim,…). Dan dalam
hadits yang lain dikatakan: "sifat malu adalah cabang dari iman". (H.R. Bukhari,
Muslim,…).
·
Sifat malu hanya membawa
kebaikan; sebagaimana dalam hadits 'Imran bin
Hushain dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam : "Sifat malu tidak membawa
selain kebaikan". (H.R.Bukhari dan Muslim).
Karakteristik sifat malu dan
implikasinya
Karakteristiknya
Hal ini seperti digambarkan dalam hadits Ibnu
Mas'ud :" Malu kepada Allah adalah bahwa engkau menjaga kepala dan apa yang
disadari/ditangkapnya, (menjaga) perut dan apa yang dikandungnya, mengingat mati
dan musibah (yang akan menimpa); barangsiapa yang menginginkan akhirat maka
hendaklah dia meninggalkan gemerlap dunia. Maka siapa yang melakukan hal itu,
berarti dia telah berlaku malu kepada Allah". (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad,
at-Turmuzi secara marfu').
Implikasinya
Sifat malu kepada Allah melahirkan tindakan untuk
selalu memonitor semua nikmatNya dan melihat keterbatasan dan
ketimpangan-ketimpangan dalam mensyukurinya. Bila seorang hamba telah dicabut
sifat malu dari dirinya baik sifat malu bawaan atau pun yang didapat melalui
proses maka dia tidak lagi memiliki filter untuk melakukan perbuatan yang
jelek-jelek dan akhlaq yang rendah dan hina; lantas kemudian jadilah dia
seakan-akan tidak memiliki iman sama sekali.
Seperti yang diungkapkan oleh 'Imran bin Hushain
radhiallâhu 'anhu bahwa sifat malu yang dipuji dalam sabda Nabi Shallallahu
'alaihi wasallam adalah akhlaq yang memberikan sugesti untuk melakukan perbuatan
yang baik dan meninggalkan yang jelek, sedangkan kelemahan dan ketidakmampuan
yang berimbas kepada keterbatasan dalam melakukan hak-hak Allah dan hak
hamba-hambaNya maka hal ini tidaklah dinamakan sifat malu tersebut akan tetapi
hal itu adalah kelemahan, ketidakmampuan, dan kehinaan semata.
Intisari Hadits
·
Diantara ungkapan yang populer
sejak kenabian pertama hingga dari abad ke abad adalah : "jika engkau tidak
merasa malu maka perbuatlah apa yang engkau inginkan".
·
Sifat malu ada dua macam: sifat
bawaan dan sifat yang didapat setelah melalui proses.
·
Sifat malu merupakan bagian atau
cabang dari cabang-cabang iman.
·
Orang yang tidak memiliki sifat
malu sama sekali maka dia tidak akan memiliki filter diri dan akan selalu
melakukan prilaku yang jelek dan hina.
Hakikat Sifat Malu
Categories :
Dari Abi Mas'ud al-Badri radhiallâhu 'anhu, dia
berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " Sesungguhnya
diantara ucapan kenabian pertama (Adam) yang didapat oleh manusia (dari generasi
ke generasi-red) adalah: 'jika engkau tidak merasa malu maka perbuatlah apa yang
engkau inginkan' ". (H.R.Bukhari)
Catatan:
Mushannif menyebutkan bahwa nash hadits seperti diatas adalah riwayat Bukhari,
namun persisnya adalah sebagai berikut (tanpa kata al-Badri radhiallâhu 'anhu
dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam seharusnya dalam nash di shahih
Bukhari adalah an-Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ):
Takhrij hadits secara global
Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Bukhari,
ad-Daruquthni, Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, ath-Thabrani dan lain-lain.
Makna Hadits secara
global
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menyatakan
bahwa ucapan kenabian pertama (Adam 'alaihissalam) yang terus menerus didengar
dari generasi ke generasi adalah "bila engkau tidak merasa malu maka perbuatlah
apa yang engkau inginkan".
Penjelasan Tambahan
Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam :
"Sesungguhnya diantara ucapan kenabian pertama (Adam 'alaihissalam ) yang
didapat oleh manusia (dari generasi ke generasi-red)" diatas mengisyaratkan
bahwa ucapan ini ma'tsur (merupakan atsar) dari para nabi terdahulu, diwarisi
dan selalu diperbincangkan oleh orang-orang dari abad ke abad. Ini artinya,
bahwa kenabian terdahulu memang telah mengenal ucapan ini dan masyhur di
kalangan manusia hingga sampai kepada orang pertama dari umat ini. Statement
semacam ini didukung oleh sebagian riwayat hadits, yang berbunyi:
"manusia-manusia terdahulu tidak mengenal ucapan kenabian pertama yang lain
kecuali ucapan ini". (dikeluarkan oleh Humaid bin Zanjawaih, dan selainnya).
Makna sabda beliau : "jika engkau tidak merasa malu maka perbuatlah apa yang engkau
inginkan"
Mengenai maknanya terdapat dua pendapat:
Pertama: kalimat tersebut bukan mengandung pengertian boleh berbuat sesuka
hati, akan tetapi bermakna adz-Dzamm (celaan) dan an-Nahyu (larangan). Dalam
mengimplementasikan pengertian diatas, terdapat dua cara :
Cara pertama: bahwa amr (perintah) tersebut
bermakna: at-Tahdid wal wa'iid (ultimatum dan ancaman keras). Jadi maksudnya:
jika engkau tidak memiliki rasa malu maka lakukanlah apa yang engkau inginkan
sebab sesungguhnya Allah akan mengganjar perbuatanmu tersebut, seperti dalam
firman Allah: "Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan. (Q.,s. 41/Fushshilat:40). Dan firmanNya: "'Maka
sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia.
(Q.,.39/az-Zumar:15). Dan seperti makna hadits yang hanya ditautsiq (didukung
kualitas sanad dan matannya) oleh Ibnu Hibban: "Barangsiapa yang menjual khamar
(arak) maka hendaklah dia memotong-motong babi (baik untuk dijual atau
dimakan)". Maksudnya : barangsiapa yang menghalalkan penjualan khamar/arak maka
hendaklah terlebih dulu menghalalkan penjualan babi sebab kedua-duanya sama-sama
diharamkan. Jadi disini ada perintah namun pengertiannya adalah larangan. Dan
banyak lagi contoh-contoh yang lain; pendapat semacam ini adalah pilihan
sekelompok ulama, diantaranya: Abul 'Abbas, Tsa'lab.
Cara kedua: bahwa amr (perintah) tersebut bermakna:
al-Khabar (pemberitaan). Jadi maksudnya: barangsiapa yang tidak memiliki rasa
malu, dia akan melakukan apa saja yang dia inginkan. Sebab sesungguhnya yang
mencegahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk adalah sifat malu; orang
yang tidak memiliki sifat ini, maka dia akan tenggelam ke dalam setiap perbuatan
keji dan munkar dan orang yang seperti ini hanya bisa tercegah dari melakukannya
bila dia memiliki rasa malu. Sepadan dengan makna ini adalah hadits Nabi
Shallallahu 'alaihi wasallam yang shahih: "barang siapa yang berdusta kepadaku
maka hendaklah dia menyediakan tempat duduknya di neraka". Lafazh hadits ini
berupa amr (perintah) namun maknanya adalah al-Khabar (pemberitaan) yakni bahwa
orang yang berdusta terhadap beliau maka dia sudah menyediakan tempat duduknya
di neraka. Pendapat ini adalah pilihan Abu 'Ubaid, al-Qaasim bin Sallaam,
Ibnu Qutaibah, Muhammad bin Nashr al-Marwazi, dan selain mereka. Abu Daud
meriwayatkan dari Imam Ahmad yang mengindikasikan pendapat seperti ini juga.
Kedua: kalimat tersebut mengandung pengertian ; perintah untuk melakukan apa
yang dia inginkan sesuai dengan makna lafazh tersebut secara zhahirnya. Jadi
artinya: apabila apa yang ingin engkau lakukan termasuk perbuatan yang tidak
perlu merasa malu untuk melakukannya baik dari Allah maupun manusia karena ia
merupakan perbuatan keta'atan/kebajikan atau akhlaq yang baik dan etika yang
dianggap baik; maka ketika itu perbuatlah apa yang ingin engkau lakukan.
Pendapat ini dikemukakan oleh sekelompok ulama, diantaranya Abu Ishaq
al-Marwazi asy-Syafi'i, dihikayatkan pendapat sepertinya dari Imam Ahmad,
terdapat juga dalam sebagian manuskript ringkasan kitab "masaail Abi Daud",
begitu juga seperti yang dihikayatkan oleh al-Khallal dalam kitabnya "al-Adab".
Diantaranya perkataan sebagian Salaf ketika mereka ditanyai tentang definisi
al-Muruuah : "bahwa engkau tidak melakukan sesuatu yang engkau malu melakukannya
secara terang-terangan (sama malunya) di waktu engkau dalam kesendirian".
Ungkapan ini sama dengan makna hadits "dosa adalah apa yang terbetik dalam
hatimu sedangkan engkau takut orang lain mengetahuinya" (penjelasan tentang
hadits ini telah kami tampilkan pada pembahasan yang lalu). Ada beberapa hadits
yang senada dengan makna penjelasan diatas yang dipaparkan oleh Mushannif,
diantaranya hadits dari Usamah bin Syuraik yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban
dalam kitabnya "Shahih Ibni Hibban": dari Usamah bin Syuraik, dia berkata:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "sesuatu yang Allah benci
darimu (untuk dilakukan), maka janganlah engkau lakukan juga bila engkau sedang
sendirian".
Klasifikasi sifat malu, kedudukan dan
keutamaannya
Klasifikasinya dan kedudukannya
Sifat malu ada dua macam:
Pertama, sifat malu bawaan yang tidak didapat melalui proses ; ini merupakan
akhlaq yang paling mulia yang Allah karuniakan kepada hambaNya, oleh karena
itulah dalam sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dikatakan: "sifat malu
tidak membawa selain kebaikan" sebab ia akan mencegah orang yang memilikinya
untuk melakukan perbuatan yang buruk-buruk dan hina serta mendorongnya untuk
menggunakan akhlaq yang mulia. Sifat ini merupakan bagian dari iman bila
implikasinya terhadap pemiliknya demikian. Al-Jarrah bin 'Abdullah al-Hikami,
salah seorang pahlawan penunggang kuda dari Ahli Syam, berkata: "aku tinggalkan
dosa-dosa karena malu, selama empat puluh tahun; ternyata aku dapati kemudian
sifat wara' ".
Kedua, sifat malu yang didapat melalui proses ma'rifatullah (mengenal
Allah), keagunganNya, kedekatanNya dengan hamba-hambaNya, pengawasanNya terhadap
perbuatan mereka serta ilmuNya terhadap apa saja yang tersembunyi di hati
manusia. Ini merupakan bagian keimanan yang paling tinggi bahkan merupakan
tingkatan ihsan paling tinggi, seperti dalam sabda Nabi Shallallahu 'alaihi
wasallam kepada seorang laki-laki: "berlaku malu lah engkau kepada Allah
sebagaimana engkau malu kepada salah seorang keluargamu yang paling shalih".
Keutamaannya
Diantara keutamaan sifat malu adalah:
·
Sifat malu adalah sifat yang
dicintai oleh Allah; sebagaimana dalam hadits
yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, an-Nasai dari hadits al-Asyajj al-'Ashri, dia
berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku:
"Sesungguhnya engkau memiliki dua sifat yang dicintai oleh Allah". Aku bertanya
kepada beliau: 'apa itu?'. Beliau bersabda :"sifat lemah lembut (al-Hilm) dan
sifat malu". Aku bertanya lagi: 'sifat yang sudah lama (melekat padaku) atau
yang baru?'. Beliau menjawab dengan sabdanya: "bahkan yang sudah lama". Aku
berkata (pada diriku): 'alhamdulillah Yang telah menganugerahkan kepadaku dua
sifat yang dicintai oleh Allah'. Begitu juga dengan apa yang dikatakan oleh
seorang shahabat, Salman al-Farisi: "Sesungguhnya bila Allah menginginkan
kehancuran/kebinasaan bagi seorang hambaNya, maka Dia akan mencabut dari dirinya
sifat malu, dan bila sudah dicabut sifat tersebut dari dirinya maka dia tidak
akan menemuiNya kecuali dalam kondisi dia amat dimurkai dan murka, dan bila dia
sudah dalam kondisi demikian maka akan dicabut dari dirinya sifat amanah lantas
dia tidak akan menemuiNya kecuali dalam kondisi dia dicap sebagai pengkhianat
dan orang yang dikhianati, dan bila dia sudah menjadi pengkhianat dan orang yang
dikhianati maka akan dicabut dari dirinya sifat rahmah (sifat belas kasih)
lantas dia tidak akan menemuiNya kecuali dalam kondisi dia memiliki sikap keras
dan berhati kasar, dan apabila dia sudah dalam kondisi demikian maka akan
dicabut sebagian iman dari tengkuknya, dan bila sudah demikian maka dia tidak
akan menemuiNya kecuali dalam kondisinya yang telah menjadi syaithan yang
dilaknat dan suka melaknat".
·
Sifat malu merupakan bagian dari
iman; sebagaimana dalam hadits yang shahih
dari Ibnu 'Umar radhiallâhu 'anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam
lewat di depan seorang laki-laki yang mencerca saudaranya yang memiliki sifat
malu, dia (orang tersebut) berkata: "sesungguhnya engkau ini amat pemalu",
seakan dia mengatakan (ungkapan ini berasal dari perawi hadits-red);"..ia (sifat
malu tersebut) telah membahayakan dirimu". Lantas kemudian Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "biarkanlah dia! Karena sesungguhnya
sifat malu itu adalah sebagian dari iman". (H.R.Bukhari, Muslim,…). Dan dalam
hadits yang lain dikatakan: "sifat malu adalah cabang dari iman". (H.R. Bukhari,
Muslim,…).
·
Sifat malu hanya membawa
kebaikan; sebagaimana dalam hadits 'Imran bin
Hushain dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam : "Sifat malu tidak membawa
selain kebaikan". (H.R.Bukhari dan Muslim).
Karakteristik sifat malu dan
implikasinya
Karakteristiknya
Hal ini seperti digambarkan dalam hadits Ibnu
Mas'ud :" Malu kepada Allah adalah bahwa engkau menjaga kepala dan apa yang
disadari/ditangkapnya, (menjaga) perut dan apa yang dikandungnya, mengingat mati
dan musibah (yang akan menimpa); barangsiapa yang menginginkan akhirat maka
hendaklah dia meninggalkan gemerlap dunia. Maka siapa yang melakukan hal itu,
berarti dia telah berlaku malu kepada Allah". (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad,
at-Turmuzi secara marfu').
Implikasinya
Sifat malu kepada Allah melahirkan tindakan untuk
selalu memonitor semua nikmatNya dan melihat keterbatasan dan
ketimpangan-ketimpangan dalam mensyukurinya. Bila seorang hamba telah dicabut
sifat malu dari dirinya baik sifat malu bawaan atau pun yang didapat melalui
proses maka dia tidak lagi memiliki filter untuk melakukan perbuatan yang
jelek-jelek dan akhlaq yang rendah dan hina; lantas kemudian jadilah dia
seakan-akan tidak memiliki iman sama sekali.
Seperti yang diungkapkan oleh 'Imran bin Hushain
radhiallâhu 'anhu bahwa sifat malu yang dipuji dalam sabda Nabi Shallallahu
'alaihi wasallam adalah akhlaq yang memberikan sugesti untuk melakukan perbuatan
yang baik dan meninggalkan yang jelek, sedangkan kelemahan dan ketidakmampuan
yang berimbas kepada keterbatasan dalam melakukan hak-hak Allah dan hak
hamba-hambaNya maka hal ini tidaklah dinamakan sifat malu tersebut akan tetapi
hal itu adalah kelemahan, ketidakmampuan, dan kehinaan semata.
Intisari Hadits
·
Diantara ungkapan yang populer
sejak kenabian pertama hingga dari abad ke abad adalah : "jika engkau tidak
merasa malu maka perbuatlah apa yang engkau inginkan".
·
Sifat malu ada dua macam: sifat
bawaan dan sifat yang didapat setelah melalui proses.
·
Sifat malu merupakan bagian atau
cabang dari cabang-cabang iman.
·
Orang yang tidak memiliki sifat
malu sama sekali maka dia tidak akan memiliki filter diri dan akan selalu
melakukan prilaku yang jelek dan hina.
Ketika Allah Mencintai Hambanya
Categories :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ-
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ : » إِنَّ اللهَ تَعَالَى
قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ
إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ
يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا
أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ
بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا،
وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَُّّه «
رواه البخاري
“Dari Abu Hurairah radhiallaahu
'anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: ‘
Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka
sungguh! Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba
bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang
lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan
senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan sunnah
hingga Aku mencintainya; bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah
pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang
digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan
kakinya yang digunakannya untuk berjalan; jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku
akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan
melindunginya”. (H.R.al-Bukhâriy)
Riwayat Singkat Periwayat Hadits
Dia adalah sayyid al-Huffâzh, seorang shahabat
yang agung, Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu . Mengenai nama aslinya, demikian
pula dengan nama ayahnya banyak sekali pendapat tentang hal itu dan masih
diperselisihkan oleh para ulama. Namun pendapat yang paling rajih/kuat, bahwa
namanya adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausiy. Beliau masuk Islam pada tahun
penaklukan Khaibar, yakni permulaan tahun 7 H.
Imam adz-Dzahabiy berkata: “Dia banyak menimba ilmu yang baik dan penuh berkah dari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam. Tidak ada orang yang mendapatkan kelebihan seperti itu seperti dirinya. Juga, tidak ada orang yang lebih banyak dalam meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam darinya. Hal ini dikarenakan dirinya senantiasa ber-mulâzamah dengan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam (mengikuti beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam dan bersama-sama dengannya). Hadit-hadits yang diriwayatkannya mencapai 5374 hadits”.
Imam al-Bukhâriy meriwayatkan dari Abu Hurairah juga bahwa dia berkata: “sesungguhnya kalian pernah berkata: ‘sesungguhnya Abu Hurairah banyak sekali meriwayatkan hadits dari Rasululullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Kalau begitu, kenapa orang-orang Muhajirin dan Anshar tidak meriwayatkan dari Rasulullah sebanyak yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah?’. Sesungguhnya saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin tersebut disibukkan oleh aktivitas jual-beli mereka di pasar-pasar, sementara aku senantiasa ber-mulâzamah dengan beliau untuk mengisi perutku. Jadi, aku bisa hadir manakala mereka tidak hadir dan aku ingat manakala mereka lupa. Demikian pula dengan saudara-saudaraku dari kaum Anshar, mereka sibuk mengurusi harta-harta perdagangan mereka sementara aku ini adalah seorang miskin yang terdaftar dalam deretan orang-orang miskin ash-Shuffah (sebutan buat kaum papa yang tinggal di masjid Nabawiy dimana ada suatu tempat khusus buat mereka-red) sehingga aku selalu tanggap dan mengingat manakala mereka lupa.
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam telah bersabda dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâriy dari Abu Hurairah sendiri: “Sesungguhnya tidak akan ada seseorang yang membentangkan pakaiannya hingga aku menyelesaikan semua ucapanku ini, kemudian dia mengumpulkan pakaiannya tersebut (menempelkannya ke tubuhnya) melainkan dia telah menangkap semua apa yang aku katakan”. Lalu aku membentangkan kain diatasku hingga bilamana Rasulullah menyelesaikan ucapannya, aku telah mengumpulkannya (menempelkannya) ke dadaku, lantas aku tidak lagi lupa sedikitpun dari ucapan beliau tersebut.
Abu Hurairah wafat pada tahun 57 H.
Catatan: Kisah ini menegaskan bahwa Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam tidak berbicara karena dorongan hawa nafsu tetapi adalah karena wahyu yang diwahyukan kepadanya (Q.,s. 53/an-Najm: 3-4), maka ucapan beliau tersebut sudah pasti benar dan terjadi -atas izin Allah- serta keistimewaan semacam ini hanya dimiliki oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam saja dan tidak dimiliki oleh siapapun setelah beliau. Disamping itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa para shahabat adalah generasi yang merupakan sebaik-baik abad dimana mereka selalu berlomba-lomba di dalam berbuat kebajikan apalagi dalam membenarkan dan melakukan suatu janji yang dijanjikan oleh Rasulullah yang sudah pasti benar dan terjadi. Banyak peristiwa yang menunjukkan hal itu, salah satunya adalah apa yang ditunjukkan oleh Abu Hurairah diatas. Jadi, tidak lebih dari itu. Wallahu a’lam -red).
Imam adz-Dzahabiy berkata: “Dia banyak menimba ilmu yang baik dan penuh berkah dari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam. Tidak ada orang yang mendapatkan kelebihan seperti itu seperti dirinya. Juga, tidak ada orang yang lebih banyak dalam meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam darinya. Hal ini dikarenakan dirinya senantiasa ber-mulâzamah dengan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam (mengikuti beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam dan bersama-sama dengannya). Hadit-hadits yang diriwayatkannya mencapai 5374 hadits”.
Imam al-Bukhâriy meriwayatkan dari Abu Hurairah juga bahwa dia berkata: “sesungguhnya kalian pernah berkata: ‘sesungguhnya Abu Hurairah banyak sekali meriwayatkan hadits dari Rasululullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Kalau begitu, kenapa orang-orang Muhajirin dan Anshar tidak meriwayatkan dari Rasulullah sebanyak yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah?’. Sesungguhnya saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin tersebut disibukkan oleh aktivitas jual-beli mereka di pasar-pasar, sementara aku senantiasa ber-mulâzamah dengan beliau untuk mengisi perutku. Jadi, aku bisa hadir manakala mereka tidak hadir dan aku ingat manakala mereka lupa. Demikian pula dengan saudara-saudaraku dari kaum Anshar, mereka sibuk mengurusi harta-harta perdagangan mereka sementara aku ini adalah seorang miskin yang terdaftar dalam deretan orang-orang miskin ash-Shuffah (sebutan buat kaum papa yang tinggal di masjid Nabawiy dimana ada suatu tempat khusus buat mereka-red) sehingga aku selalu tanggap dan mengingat manakala mereka lupa.
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam telah bersabda dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâriy dari Abu Hurairah sendiri: “Sesungguhnya tidak akan ada seseorang yang membentangkan pakaiannya hingga aku menyelesaikan semua ucapanku ini, kemudian dia mengumpulkan pakaiannya tersebut (menempelkannya ke tubuhnya) melainkan dia telah menangkap semua apa yang aku katakan”. Lalu aku membentangkan kain diatasku hingga bilamana Rasulullah menyelesaikan ucapannya, aku telah mengumpulkannya (menempelkannya) ke dadaku, lantas aku tidak lagi lupa sedikitpun dari ucapan beliau tersebut.
Abu Hurairah wafat pada tahun 57 H.
Catatan: Kisah ini menegaskan bahwa Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam tidak berbicara karena dorongan hawa nafsu tetapi adalah karena wahyu yang diwahyukan kepadanya (Q.,s. 53/an-Najm: 3-4), maka ucapan beliau tersebut sudah pasti benar dan terjadi -atas izin Allah- serta keistimewaan semacam ini hanya dimiliki oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam saja dan tidak dimiliki oleh siapapun setelah beliau. Disamping itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa para shahabat adalah generasi yang merupakan sebaik-baik abad dimana mereka selalu berlomba-lomba di dalam berbuat kebajikan apalagi dalam membenarkan dan melakukan suatu janji yang dijanjikan oleh Rasulullah yang sudah pasti benar dan terjadi. Banyak peristiwa yang menunjukkan hal itu, salah satunya adalah apa yang ditunjukkan oleh Abu Hurairah diatas. Jadi, tidak lebih dari itu. Wallahu a’lam -red).
PENJELASAN KEBAHASAAN
Ungkapan : [Innallâha Ta’âla Qâla: Sesungguhnya
Allah Ta’ala berfirman] ; ini merupakan salah satu redaksi Hadîts
Qudsiy.
Ungkapan : [man ‘âdâ lî waliyyan: ‘barangsiapa yang memusuhi wali-Ku..] : terdapat variasi lafazh, diantaranya: “man âdzâ lî waliyyan” ; “man ahâna lî waliyyan faqad bârazanî bi al-Muhârabah” . Kata “al-Waliy” diambil dari kata al-Muwâlâh , makna asalnya adalah al-Qurb (dekat) sedangkan makna asal kata “al-Mu’âdâh” ( kata benda dari kata kerja ‘âdâ ) adalah al-Bu’d (jauh); Jadi, kata “al-Waliy” artinya orang yang dekat kepada Allah, melakukan keta’atan dan meninggalkan perbuatan maksiat.
Ungkapan : [faqad âdzantuhû bi al-Harb: maka sungguh! Aku telah mengumumkan perang terhadapnya] : yakni maka sungguh Aku telah memberitahukan kepadanya bahwa Aku akan memeranginya sebagaimana dia memerangi-Ku dengan cara memusuhi para wali-Ku.
Ungkapan : [wa mâ taqarraba ilayya ‘abdî bisyay-in ahabbu ilayya mimmaf taradltuhû ‘alaihi: Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya] : manakala Dia Ta’ala menyebutkan bahwa memusuhi para wali-Nya berarti memusuhi-Nya, maka Dia juga menyebutkan setelah itu kriteria-kriteria para wali-Nya yang haram dimusuhi dan wajib loyal terhadapnya (dijadikan wali); yaitu bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan sarana yang dapat mendekatkan diri mereka kepada-Nya dimana sarana utamanya adalah melaksanakan farâ-idl (ibadah-ibadah wajib).
Ungkapan : [fa idzâ ahbabtuhû kuntu sam’ahu al-Ladzî yasma’u bihî, wa basharahu al-Ladzî yubshiru bihî, wa yadahu al-Latî yabthisyu bihâ wa rijlahu al-Latî yamsyî bihâ: bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan] : maksudnya adalah bahwa barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam bertaqarrub kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah wajib yang diembankan kepadanya, kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, maka Allah akan mendekatkan dirinya kepada-Nya, meningkatkan derajat iman nya kepada derajat ihsân ; maka ketika itu, dia dalam beribadah kepada Allah menjadi selalu ber-murâqabah (menjadikan dirinya selalu di bawah pengawasan Allah) seakan-akan dia melihat-Nya. Karenanya pula, hatinya menjadi penuh oleh ma’rifat kepada Allah, mahabbah (mencintai)-Nya, mengagungkan-Nya, takut kepada-Nya, senang dekat dengan-Nya dan merindukan-Nya. Maka, jadilah orang yang sedemikian terisi ma’rifah kepada Allah di hatinya melihat-Nya dengan ‘ain bashîrah (pandangan batin)-nya; maka jika dia bicara, dia berbicara karena Allah, sesuai dengan yang diridlai oleh-Nya dan atas taufiq-Nya; jika mendengar, dia mendengar karena-Nya sesuai dengan yang diridlai-Nya dan atas taufiq-Nya; jika melihat, dia melihat karena-Nya sesuai dengan yang diridlai-Nya dan atas taufiqNya dan jika memukul/melakukan kekerasan, maka dia memukul/melakukan kekerasan karena-Nya dalam hal yang diridlai-Nya dan atas taufiq-Nya.
Ungkapan : [wa la-in sa-alanî la-u’thiannahû …: jika dia meminta kepadaKu niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepadaKu niscaya Aku akan melindunginya] : yakni bahwa orang yang dicintai dan dekat di sisi Allah memiliki kedudukan khusus yang konsekuensinya bila dia meminta sesuatu kepada-Nya, pasti akan Dia berikan untuknya; jika meminta perlindungan kepada-Nya dari sesuatu, pasti Dia melindungi dirinya darinya dan jika dia berdoa kepada-Nya, pasti Dia mengabulkannya; dengan demikian dia menjadi orang yang selalu terkabul doanya karena kemuliaan dirinya di sisi Allah.
Ungkapan : [man ‘âdâ lî waliyyan: ‘barangsiapa yang memusuhi wali-Ku..] : terdapat variasi lafazh, diantaranya: “man âdzâ lî waliyyan” ; “man ahâna lî waliyyan faqad bârazanî bi al-Muhârabah” . Kata “al-Waliy” diambil dari kata al-Muwâlâh , makna asalnya adalah al-Qurb (dekat) sedangkan makna asal kata “al-Mu’âdâh” ( kata benda dari kata kerja ‘âdâ ) adalah al-Bu’d (jauh); Jadi, kata “al-Waliy” artinya orang yang dekat kepada Allah, melakukan keta’atan dan meninggalkan perbuatan maksiat.
Ungkapan : [faqad âdzantuhû bi al-Harb: maka sungguh! Aku telah mengumumkan perang terhadapnya] : yakni maka sungguh Aku telah memberitahukan kepadanya bahwa Aku akan memeranginya sebagaimana dia memerangi-Ku dengan cara memusuhi para wali-Ku.
Ungkapan : [wa mâ taqarraba ilayya ‘abdî bisyay-in ahabbu ilayya mimmaf taradltuhû ‘alaihi: Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya] : manakala Dia Ta’ala menyebutkan bahwa memusuhi para wali-Nya berarti memusuhi-Nya, maka Dia juga menyebutkan setelah itu kriteria-kriteria para wali-Nya yang haram dimusuhi dan wajib loyal terhadapnya (dijadikan wali); yaitu bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan sarana yang dapat mendekatkan diri mereka kepada-Nya dimana sarana utamanya adalah melaksanakan farâ-idl (ibadah-ibadah wajib).
Ungkapan : [fa idzâ ahbabtuhû kuntu sam’ahu al-Ladzî yasma’u bihî, wa basharahu al-Ladzî yubshiru bihî, wa yadahu al-Latî yabthisyu bihâ wa rijlahu al-Latî yamsyî bihâ: bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan] : maksudnya adalah bahwa barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam bertaqarrub kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah wajib yang diembankan kepadanya, kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, maka Allah akan mendekatkan dirinya kepada-Nya, meningkatkan derajat iman nya kepada derajat ihsân ; maka ketika itu, dia dalam beribadah kepada Allah menjadi selalu ber-murâqabah (menjadikan dirinya selalu di bawah pengawasan Allah) seakan-akan dia melihat-Nya. Karenanya pula, hatinya menjadi penuh oleh ma’rifat kepada Allah, mahabbah (mencintai)-Nya, mengagungkan-Nya, takut kepada-Nya, senang dekat dengan-Nya dan merindukan-Nya. Maka, jadilah orang yang sedemikian terisi ma’rifah kepada Allah di hatinya melihat-Nya dengan ‘ain bashîrah (pandangan batin)-nya; maka jika dia bicara, dia berbicara karena Allah, sesuai dengan yang diridlai oleh-Nya dan atas taufiq-Nya; jika mendengar, dia mendengar karena-Nya sesuai dengan yang diridlai-Nya dan atas taufiq-Nya; jika melihat, dia melihat karena-Nya sesuai dengan yang diridlai-Nya dan atas taufiqNya dan jika memukul/melakukan kekerasan, maka dia memukul/melakukan kekerasan karena-Nya dalam hal yang diridlai-Nya dan atas taufiq-Nya.
Ungkapan : [wa la-in sa-alanî la-u’thiannahû …: jika dia meminta kepadaKu niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepadaKu niscaya Aku akan melindunginya] : yakni bahwa orang yang dicintai dan dekat di sisi Allah memiliki kedudukan khusus yang konsekuensinya bila dia meminta sesuatu kepada-Nya, pasti akan Dia berikan untuknya; jika meminta perlindungan kepada-Nya dari sesuatu, pasti Dia melindungi dirinya darinya dan jika dia berdoa kepada-Nya, pasti Dia mengabulkannya; dengan demikian dia menjadi orang yang selalu terkabul doanya karena kemuliaan dirinya di sisi Allah.
BEBERAPA PELAJARAN DAN HUKUM
TERKAIT
1.
Melakukan perbuatan-perbuatan ta’at
baik yang wajib-wajib maupun yang sunnah-sunnahnya dan menjauhi diri dari semua
bentuk maksiat baik yang kecil maupun yang besar akan membuat seorang hamba
pantas menjadi salah seorang wali Allah yang dicintai-Nya dan mencintai-Nya, Dia
Ta’ala mencintai orang yang dicintai oleh para wali-Nya, mengumumkan perang
terhadap orang yang memusuhi, mengganggu, membenci, memojokkan dan menghadang
mereka dengan suatu kejahatan atau gangguan. Allah-lah yang akan menolong dan
membantu para wali-Nya tersebut.
2.
Wajib menunjukkan sikap loyal
terhadap para wali Allah dan mencintai mereka serta haram memusuhi mereka.
Demikian pula, wajib memusuhi musuh-musuh-Nya dan haram menunjukkan sikap loyal
terhadap mereka. Allah berfirman: “…janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan
musuhmu menjadi teman-teman setia…”. (Q.,s. al-Mumtahanah: 1) , Dan firmanNya:
“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi
penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”.
(Q.,s. al-Mâ-idah: 56)
Dalam kedua ayat tersebut, Allah memaparkan bahwa sifat dari orang-orang yang dicintai dan mencintai-Nya adalah bahwa mereka itu merasa hina dihadapan orang-orang beriman dan merasa bangga dan penuh percaya diri (‘izzah) dihadapan orang-orang Kafir.
Dalam kedua ayat tersebut, Allah memaparkan bahwa sifat dari orang-orang yang dicintai dan mencintai-Nya adalah bahwa mereka itu merasa hina dihadapan orang-orang beriman dan merasa bangga dan penuh percaya diri (‘izzah) dihadapan orang-orang Kafir.
3.
Hadits diatas juga menunjukkan
bahwa para wali Allah ada dua macam:
Pertama, mereka yang bertaqarrub kepada-Nya dengan melaksanakan ibadah-ibadah wajib ; ini merupakan derajat kaum Muqtashidûn, Ashhâb al-Yamîn (orang-orang yang menempuh jalan yang lurus dan menjadi golongan kanan). Melaksanakan ibadah-ibadah wajib merupakan amalan yang paling utama sebagaimana diucapkan oleh ‘Umar bin al-Khaththab radhiallaahu 'anhu : “seutama-utama amalan adalah melaksanakan apa yang diwajibkan oleh Allah, menjauhi apa yang diharamkan-Nya serta niat yang jujur semata-mata mengharap ridla-Nya”.
Kedua, mereka yang bertaqarrub kepadaNya, disamping melaksanakan ibadah-ibadah wajib tersebut, juga bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah-ibadah sunnah dan keta’atan dan menghindari semua yang dilarang; hal-hal inilah yang memastikan seorang hamba mendapatkan mahabbah Allah (kecintaan dari-Nya) sebagaimana dalam sabda Rasulullah diatas: “dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepadaKu dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya”.
Pertama, mereka yang bertaqarrub kepada-Nya dengan melaksanakan ibadah-ibadah wajib ; ini merupakan derajat kaum Muqtashidûn, Ashhâb al-Yamîn (orang-orang yang menempuh jalan yang lurus dan menjadi golongan kanan). Melaksanakan ibadah-ibadah wajib merupakan amalan yang paling utama sebagaimana diucapkan oleh ‘Umar bin al-Khaththab radhiallaahu 'anhu : “seutama-utama amalan adalah melaksanakan apa yang diwajibkan oleh Allah, menjauhi apa yang diharamkan-Nya serta niat yang jujur semata-mata mengharap ridla-Nya”.
Kedua, mereka yang bertaqarrub kepadaNya, disamping melaksanakan ibadah-ibadah wajib tersebut, juga bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah-ibadah sunnah dan keta’atan dan menghindari semua yang dilarang; hal-hal inilah yang memastikan seorang hamba mendapatkan mahabbah Allah (kecintaan dari-Nya) sebagaimana dalam sabda Rasulullah diatas: “dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepadaKu dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya”.
4.
Orang yang dicintai oleh Allah,
maka Dia akan menganugerahinya mahabbah terhadap-Nya, mena’ati-Nya, bergiat
dalam berzikir dan beribadah kepada-Nya, menenteramkan hatinya untuk selalu
melakukan amalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada-Nya. Dengan anugerah itu,
maka orang tersebut berhak menjadi orang yang dekat dengan-Nya dan mendapatkan
keberuntungan di sisi-Nya. Allah Ta’ala berfirman: ‘Hai orang-orang yang
beriman, barangsiapa di antara kamu yang mutad dari agamanya, maka kelak Allah
akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu'min, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang
tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
diberikan-Nya kepada siap yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Q.,s. al-Mâ-idah: 54).
5.
Hal yang paling penting dan menjadi
tuntutan setiap hamba adalah mendapatkan mahabbah dari-Nya sebab orang yang
mendapatkannya maka dia akan mendapatkan dua kebaikan; dunia dan akhirat.
Sebagai seorang mukmin sejati yang sangat ingin untuk menjadi salah seorang dari
para wali Allah tentu berupaya mendapatkan tuntutan yang amat berharga ini
tetapi untuk merealisasikannya diperlukan beberapa hal:
a.
Melaksanakan ibadah-ibadah wajib
yang sudah diwajibkan oleh Allah Ta’ala sebagaimana yang terdapat dalam
penggalan hadits diatas: “Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan
diri dengan beribadah) kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada
apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya”. Yaitu, dengan membetulkan dan meluruskan
at-Tauhîd, melaksanakan shalat wajib, zakat wajib, puasa Ramadlan, haji ke
Baitullah al-Haram, birr al-Wâlidain (berbakti kepada kedua orangtua),
menyambung rahim (silaturrahim), berakhlaq yang mulia seperti jujur, dermawan,
bertutur kata yang manis, tawadlu’ dan lain-lainnya.
b.
Menjauhkan diri dari hal-hal yang
diharamkan, baik kecil maupun besar, dan dari apa saja hal-hal makruh yang
sebenarnya mampu dilakukannya.
c.
Bertaqarrub kepada Allah dengan
ibadah-ibadah sunnah mulai dari shalat, sedekah, puasa, amalan-amalan kebajikan,
dzikir, membaca al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain-lainnya. Diantara
yang patut disinggung berkenaan dengan ibadah-ibadah tersebut
adalah:
1.memperbanyak baca al-Qur’an diiringi dengan tafakkur dan renungan, mendengarnya diiringi dengan tadabbur dan pemahaman, menghafal ayat-ayatnya yang mudah, mengulang-ulanginya serta senantiasa menjaganya agar tidak lupa. Tentunya, tidak ada suatu ucapanpun yang lebih manis bagi para pencinta selain ucapan orang yang dicintainya; maka Kalamullah adalah lebih utama untuk dicintai karena memberikan kenyamanan tersendiri bagi hati mereka dan merupakan puncak dari sumua tuntutan mereka. Diantara sarana yang dapat membantu terlaksananya hal tersebut -disamping doa, tekad bulat dan keinginan keras- adalah konsistensi dalam membaca al-Qur’an sebanyak satu juz di dalam sehari semalam dan semampunya berupaya agar tidak lalai dari konsistensi tersebut.
2.memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala baik melalui lisan maupun hati sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih dari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku (selalu) di sisi sangkaan (baik) hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku (selalu) bersamanya manakala dia mengingat-Ku; jika dia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku mengingatnya di dalam diri-Ku; jika dia mengingat-Ku di hadapan khalayak (orang banyak), maka Aku mengingatnya pula di hadapan khalayak yang lebih baik dari mereka (malaikat)”. Allah berfirman: “…maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu”.(Q.,s. al-Baqarah: 152)
1.memperbanyak baca al-Qur’an diiringi dengan tafakkur dan renungan, mendengarnya diiringi dengan tadabbur dan pemahaman, menghafal ayat-ayatnya yang mudah, mengulang-ulanginya serta senantiasa menjaganya agar tidak lupa. Tentunya, tidak ada suatu ucapanpun yang lebih manis bagi para pencinta selain ucapan orang yang dicintainya; maka Kalamullah adalah lebih utama untuk dicintai karena memberikan kenyamanan tersendiri bagi hati mereka dan merupakan puncak dari sumua tuntutan mereka. Diantara sarana yang dapat membantu terlaksananya hal tersebut -disamping doa, tekad bulat dan keinginan keras- adalah konsistensi dalam membaca al-Qur’an sebanyak satu juz di dalam sehari semalam dan semampunya berupaya agar tidak lalai dari konsistensi tersebut.
2.memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala baik melalui lisan maupun hati sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih dari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku (selalu) di sisi sangkaan (baik) hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku (selalu) bersamanya manakala dia mengingat-Ku; jika dia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku mengingatnya di dalam diri-Ku; jika dia mengingat-Ku di hadapan khalayak (orang banyak), maka Aku mengingatnya pula di hadapan khalayak yang lebih baik dari mereka (malaikat)”. Allah berfirman: “…maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu”.(Q.,s. al-Baqarah: 152)
6.
Bahwa adalah bohong belaka bila ada
pengakuan yang menganggap selain cara berbuat keta’atan dan berloyalitas kepada
Allah yang disyariatkanNya melalui lisan Rasul-Nya, dapat menyampaikan seseorang
kepada mahabbah Allah dan menjadi wali-Nya sepertihalnya orang-orang Musyrik
yang menyembah selain Allah dengan anggapan bahwa mereka semata hanya ingin
mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan cara tersebut sebagai yang
dikisahkan oleh Allah tentang mereka dalam firman-Nya (artinya):"Kami tidak
menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya". (Q.,s.az-Zumar: 3). Demikian pula, sebagai yang diceritakan
oleh Allah berkenaan dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani, bahwa mereka
berkata dalam firman-Nya (artinya) : "Kami ini adalah anak-anak Allah dan
kekasih-kekasih-Nya". (Q.,s. al-Mâ-idah: 18) padahal mereka ngotot mendustai
para Rasul-Nya, melanggar larangan-Nya serta meninggalkan kewajiban-kewajiban
yang diembankan-Nya kepada mereka.
Jadi, setiap orang yang menempuh selain jalan yang sudah disyari’atkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka dia tidak akan mencapai wilâyatullâh (kewalian yang dianugerahkan oleh Allah) dan mahabbah-Nya.
Jadi, setiap orang yang menempuh selain jalan yang sudah disyari’atkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka dia tidak akan mencapai wilâyatullâh (kewalian yang dianugerahkan oleh Allah) dan mahabbah-Nya.
7.
Setiap Muslim sangat menginginkan
agar doanya dikabulkan, amalannya diterima, permintaannya diberi serta
mendapatkan perlindungan dari-Nya. Hal ini semua adalah tuntutan yang amat
berharga dan anugerah yang agung yang tidak akan dapat dicapai kecuali oleh
orang yang menempuh jalan menuju wilâyatullâh, yaitu melaksanakan ibadah-ibadah
yang diwajibkan-Nya plus ibadah-ibadah sunnah seoptimal mungkin diiringi dengan
niat yang tulus (an-Niyyah al-Khâlishah), mengikuti Nabi serta berjalan diatas
manhajnya (al-Mutâba’ah).
(Disadur dari tulisan berjudul asli: “Taqarrab yuhibbukallâh” karya Syaikh Nâshir asy-Syimâliy)
(Disadur dari tulisan berjudul asli: “Taqarrab yuhibbukallâh” karya Syaikh Nâshir asy-Syimâliy)
Langganan:
Postingan (Atom)
