Sayyid
Quthb rh berkata :
“Sangat
sulit atas saya untuk menggambarkan bagaimana kita bisa sampai kepada tujuan
yang baik dengan menggunakan cara yang kotor ...................?!. Sesungguhnya tujuan yang baik tidak hidup
kecuali dalam hati yang baik, maka bagaimana mungkin bagi hati itu untuk tahan
menggunakan cara yang kotor, bahkan bagaimana ia mendapatkan jalan untuk
menggunakan washilah (cara) ini ??!
Saat
kita mencelup ke jalan yang penuh lumpur, maka sudah pasti kita sampai ke
tepian jalan dalam keadaan berlumuran lumpur, karena sesungguhnya lumpur-lumpur
di jalan akan meninggalkan bekas-bekasnya pada kaki kita dan pada bagian
kaki-kaki ini. Begitu juga keadaannya saat kita menggunakan washilah (cara)
yang kotor, sesungguhnya kotoran akan menggantung pada ruh-ruh kita dan ia akan
meninggalkan bekas-bekasnya pada ruh ini dan pada tujuan yang kita sampai
kepadanya “
(Afrahur Ruh, ia adalah risalah indah yang
beliau kirim kepada saudarinya Aminah Quthb, dan pertama kali diterbitkan majalah
Al Fikr Tunisia dengan judul Adlwaa Min Ba’id volume IV tahun ke IV < Adzar
1959M ), dan ucapan yang di atas pada point 15 pada hal 26)
Dan
beliau berkata saat menyebutkan Firman Allah :” Dan kami tidak mengutus sebelum
kamu seorang Rasul pun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia
mempunyai suatu keinginan, syaitanpun memasukan godaan-godaan terhadap
keinginan itu ......” (Al Hajj-52) :
“
Kadang semangat dan gelora jiwa mendorong para pengusung dakwah setelah para
Rasul, serta keinginan yang mendesak dalam penyebaran dakwah dan kemenangannya
.......... mendorong-dorong mereka untuk
merekrut sebagian sosok orang atau sebagian tokoh dengan memicingkan mata di
awal mulanya dari suatu yang termasuk tuntunan-tuntunan dakwah yang mereka
menduganya bukan hal yang mendasar di dalamnya, dan membiarkan mereka dalam
sebagian urusan mereka agar tidak lari dari dakwah dan tidak menjauhinya.
Kadang
hal itu mendorong mereka juga untuk menggunakan cara-cara dan metode yang tidak
sejalan dengan timbangan dakwah yang tepat dan dengan manhaj dakwah yang lurus.
Dan itu sebagai bentuk keinginan keras terhadap cepatnya kemenangan dan
penyebaran dakwah, serta sebagai upaya keras dalam perealisasian ‘mashlahat
dakwah’ padahal mashlahat dakwah yang sebenarnya adalah berada pada keistiqomahannya
diatas manhaj tanpa penyimpangan baik sedikit ataupun banyak. Adapun hasilnya
........., maka ia adalah hal yang ghaib yang tidak diketahui kecuali oleh
Allah, maka tidak boleh para pembawa dakwah ini memperhitungkan hitungan
hasil-hasil ini, namun yang wajib adalah mereka berjalan di atas manhaj dakwah
yang jelas yang tegas lagi tepat, dan mereka membiarkan hasil-hasil istiqomah
ini kepada Allah, dan tidak akan terbukti kecuali kebaikan di akhir perjalanan
...........
Inilah
Al Qur’an Al Karim mengingatkan mereka kepada keberadaan bahwa syaitan selalu
mengintai keinginan–keinginan mereka itu untuk bisa menembus dari arahnya kepada
inti dakwah dan bila Allah telah menjaga para Nabi dan para Rasul-Nya sehingga
syaitan tidak bisa menembus lewat jalan keinginan suci mereka kepada dakwah,
maka orang-orang yang tidak ma’shum adalah sangat membutuhkan kepada
kehati-hatian yang extra dari sisi ini dan kewaspadaan yang sangat karena
khawatir syaithan masuk menembus mereka dari celah kecintaan yang sangat dalam
nushrah dakwah, serta (celah) keinginan yang besar terhadap apa yang mereka
sebut ‘mashlahat dakwah’ sesungguhnya mashlahat dakwah ini wajib dilenyapkan dari kamus para pembawa dakwah,
karena ia adalah sumber ketergelinciran dan pintu dari syaithan yang mana ia
masuk menembus mereka darinya saat dia kesulitan masuk menembus mereka dari
sisi mashlahat sosok individu.
Dan
kadang maslahat dakwah ini berubah menjadi berhala
yang diibadahi oleh para du’at dan bersamanya mereka merupakan
manhaj dakwah yang inti, wajib para du’at untuk istiqomah diatas manhaj ini
tanpa menoleh kepada apa yang dihasilkan oleh keberpegangan ini berupa
hasil-hasil yang kadang nampak di hadapan mereka bahwa di dalamnya terdapat
bahaya terhadap dakwah ini dan para penyerunya !!! Bahaya satu-satunya yang wajib mereka hindari
adalah bahaya penyimpangan dari manhaj karena sebab apa saja. Sama saja baik
penyimpangan ini banyak ataupun sedikit. Sungguh Allah lebih mengetahui
daripada mereka terhadap mashlahat dan mereka tidak dibebani dengannya, akan
tetapi hanya dibebani dengan satu hal saja, yaitu mereka tidak menyimpang dari
manhaj dan tidak berpaling dari jalan ......... selesai hal 4/2435.
Catatan :
Lihat
bahasan selengkapnya dalam terjemah Risalah ‘Ketika maslahat dakwah
dipertuhankan dan menjadi Thoghut model baru’ karya Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim
Al Maqdisyi yang diterjemahkan oleh Ust. Abu Sulaiman.




