No Isbal = Yes and Isbal = No
Buat Wanita Muslimah
keutamaan Menghafal Al-Quran
Pacaran Boleh ngax ya?
No Isbal = Yes And Isbal = No
Telah kita saksikan hari ini, perkara yang dianggap remeh oleh sebagian manusia yaitu menurunkan...Baca Selanjutnya
Buat Wanita Muslimah
Jadi, para wanita semakin banyak berada di rumah, akan semakin baik kondisi umat manusia...Baca Selanjutnya
Keutamaan Penghafal Al-Quran
Dengan Kita menghafal Kita Akan Dimualiakan.....Baca Selanjutnya
Pacaran Boleh Ngax yaa?
Tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat. Sedang ta'aruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.Baca Selanjutnya
Sabtu, 23 Februari 2013
Bolehkah mengerjakan umrah atau haji untuk orang yang sudah mati?
Categories :
Bolehkah mengerjakan umrah atau
haji untuk orang yang sudah mati?
Jawaban:
Boleh saja mengerjakan umrah yang diniatkan untuk orang yang sudah mati sebagaimana mengerjakan haji untuk orang lain. Demikian pula dengan thawaf dan amal saleh lainnya. Imam Ahmad berkata, "Segala pengorbanan (amalan) yang dia lakukan dan diniatkan pahalanya untuk orang yang masih hidup atau yang sudah mati yang beragama Islam, akan bermanfaat baginya. Akan tetapi doa untuk orang yang sudah mati lebih utama dari pada menghadiahkan pahala untuknya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw., 'Apabila anak adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.' (HR. Muslim). Dalil ini mengarah pada keadaan bahwa Nabi saw. tidak mengatakan, 'atau anak saleh yang beribadah untuknya, membaca Alquran untuknya, melakukan salat untuknya, mengerjakan puasa, umrah, atau yang lainnya.' Namun hadis ini berbicara tentang amalan, yaitu amal yang terputus oleh kematian. Jikalau yang diinginkan dari manusia adalah agar anak beramal untuk orang tuanya, tentu sabda Nabi saw. tersebut berbunyi, 'Anak saleh yang beramal untuknya.' Meskipun demikian, jika seseorang beramal saleh lalu menghadiahkan untuk orang muslim yang lain, hal ini adalah suatu kebolehan."
Boleh saja mengerjakan umrah yang diniatkan untuk orang yang sudah mati sebagaimana mengerjakan haji untuk orang lain. Demikian pula dengan thawaf dan amal saleh lainnya. Imam Ahmad berkata, "Segala pengorbanan (amalan) yang dia lakukan dan diniatkan pahalanya untuk orang yang masih hidup atau yang sudah mati yang beragama Islam, akan bermanfaat baginya. Akan tetapi doa untuk orang yang sudah mati lebih utama dari pada menghadiahkan pahala untuknya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw., 'Apabila anak adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.' (HR. Muslim). Dalil ini mengarah pada keadaan bahwa Nabi saw. tidak mengatakan, 'atau anak saleh yang beribadah untuknya, membaca Alquran untuknya, melakukan salat untuknya, mengerjakan puasa, umrah, atau yang lainnya.' Namun hadis ini berbicara tentang amalan, yaitu amal yang terputus oleh kematian. Jikalau yang diinginkan dari manusia adalah agar anak beramal untuk orang tuanya, tentu sabda Nabi saw. tersebut berbunyi, 'Anak saleh yang beramal untuknya.' Meskipun demikian, jika seseorang beramal saleh lalu menghadiahkan untuk orang muslim yang lain, hal ini adalah suatu kebolehan."
Sumber: Majmu' Fatawa, Syekh
Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin.
Memperingati Hari Ulang Tahun
Categories :
Ditanyakan kepada Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin tentang
memperingati hari ulang tahun. Pertanyaannya adalah sebagai berikut.
"Apakah mengadakan perayaan untuk memperingati hari ulang tahun anak
dianggap sebagai bentuk menyerupai orang-orang Barat yang kafir, ataukah
dianggap menghibur jiwa dan mendatangkan rasa bahagia dalam hati anak dan
keluarganya?"
Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab sebagai berikut.
Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab sebagai berikut.
"Mengadakan perayaan untuk memperingati hari ulang tahun anak
tidak terlepas dari dua hal. Bisa jadi hal itu sebagai ibadah, dan bisa jadi
sebagai adat istiadat. Jika digolongkan sebagai ibadah, termasuk mengadakan
bidah (perkara agama yang tidak ada contohnya) dalam agama. Nabi saw. telah
melarang dari mengadakan perbuatan bidah, karena bidah termasuk dari kesesatan.
Beliau saw. bersabda (yang artinya red.), "Hati-hatilah kalian dari
mengadakan perkara-perkara yang baru dalam agama, karena sesungguhnya setiap
bidah adalah sesat, dan setiap kesesatan dalam api neraka." (HR Abu Dawud,
Tirmizi, Ibnu Majah). Jika perayaan itu dianggap sebagai adat istiadat, ada dua
larangan padanya. Pertama, menganggap suatu hari yang bukan hari raya sebagai
hari raya, hal ini termasuk melancangi Allah dan Rasul-Nya, yaitu (jika kita
mengadakan perayaan ulang tahun itu) kita telah menetapkan suatu hari perayaan
dalam Islam yang Allah dan Rasul-Nya tidak menetapkannya.
Tatkala datang ke kota Madinah, Rasulullah saw. mendapati pada kaum Ansar ada dua hari perayaan. Mereka bermain-main pada dua hari raya itu, dan mereka menganggap dua hari raya itu sebagai hari perayaan. Lalu, Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mengganti bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idulfitri dan hari raya Iduladha." (HR Nasai).
Adapun larangan kedua adalah perayaan hari ulang tahun itu menyerupai musuh-musuh Allah SWT, karena adat istiadat ini bukan termasuk adat istiadat kaum muslimin, tetapi adat istiadat yang diwarisi dari orang selain mereka. Dan, Nabi saw. telah bersabda, "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan darinya." (HR Abu Dawud).
Tatkala datang ke kota Madinah, Rasulullah saw. mendapati pada kaum Ansar ada dua hari perayaan. Mereka bermain-main pada dua hari raya itu, dan mereka menganggap dua hari raya itu sebagai hari perayaan. Lalu, Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mengganti bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idulfitri dan hari raya Iduladha." (HR Nasai).
Adapun larangan kedua adalah perayaan hari ulang tahun itu menyerupai musuh-musuh Allah SWT, karena adat istiadat ini bukan termasuk adat istiadat kaum muslimin, tetapi adat istiadat yang diwarisi dari orang selain mereka. Dan, Nabi saw. telah bersabda, "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan darinya." (HR Abu Dawud).
Kemudian, bertambahnya umur seseorang bukanlah suatu hal yang
terpuji, melainkan dalam keridaan Allah dan ketaatan kepada-Nya. Maka,
sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya, dan
sejelek-jelek manusia adalah yang panjang umurnya dan jelek amal perbuatannya.
Oleh karena itu, sebagian ahli ilmu memakruhkan berdoa untuk tetap berumur panjang secara mutlah, dan mereka memakruhkan seseorang untuk mengatakan, "Semoga Allah mengekalkanmu." Juga, dalam bentuk tidak secara mutlak, seperti seseorang yang berkata, "Semoga Allah mengekalkanmu dalam kebaikan," atau yang serupa dengan kalimat itu.
Oleh karena itu, sebagian ahli ilmu memakruhkan berdoa untuk tetap berumur panjang secara mutlah, dan mereka memakruhkan seseorang untuk mengatakan, "Semoga Allah mengekalkanmu." Juga, dalam bentuk tidak secara mutlak, seperti seseorang yang berkata, "Semoga Allah mengekalkanmu dalam kebaikan," atau yang serupa dengan kalimat itu.
Yang demikian itu dikarenakan terkadang umur panjang adalah suatu
hal yang buruk bagi seseorang, karena panjang umur disertai dengan amal yang
jelek (kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu) adalah jelek bagi
manusia, dan menambah azabnya dan kerugian baginya. Allah SWT berfirman,
"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik
mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak
mereka ketahui." (Al-A'raf: 183).
"Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan." (Ali Imran: 178).
"Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan." (Ali Imran: 178).
Sumber: Majalah Info Al-Irsyad Edisi 79, Tahun Ke-8, April 2005, Menukil dari Fatawa Manarul Islam, Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Ummu Haram binti Malhan (Wanita yang Syahid di Laut)
Categories :
Beliau adalah Ummu Haram binti Malhan bin
Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar
al-Anshariyah an-Najariyah al-Madiniyah.
Beliau adalah saudari Ummu Sulaim, bibi dari
Anas bin Malik pembantu Rasulullah saw. Beliau adalah istri dari sahabat yang
agung yang bernama Ubadah bin Shamit. Kedua saudaranya adalah Sulaim dan Haram
yang keduanya menyertai perang Badar dan Uhud dan kedua-duanya syahid pada
perang Bi'ir Ma'unah. Adapun Haram adalah seorang pejuang yang tatkala ditikam
dari belakang beliau mengatakan, "Aku telah berjaya demi Rabb
Ka'bah."
Ummu Haram termasuk wanita yang terhormat,
beliau masuk Islam, berba'iat kepada Nabi saw dan ikut berhijrah. Beliau
meriwayatkn hadis dan Anas bin Malik meriwayatkan dari beliau dan ada juga yang
lain yang meriwayatkan dari beliau.
Rasulullah saw memuliakan beliau dan pernah
mengunjungi beliau di rumahnya dan istirahat sejenak di rumahnya. Beliau dan
Ummu Sulaim adalah bibi Rasulullah saw, baik berkaitan dengan persusuan ataupun
berkaitan dengan nasab, sehingga menjadi halal menyendiri (berkhalwah) dengan
keduanya.
Anas bin Malik ra berkata, "Rasulullah saw
masuk ke rumah kami, tidak ada yang di dalam rumah melainkan saya, ibuku (Ummu
Sulaim) dan bibiku Ummu Haram. Beliau bersabda: "Berdirilah kalian, aku
akan salat bersama kalian." Maka beliau salat bersama kami pada saat bukan
waktu salat wajib.
Ummu Haram berangan-angan untuk bisa menyertai
peperangan bersama mujahidin yang menaiki kapal untuk menyebarkan dakwah dan
membebaskan manusia dari peribadatan kepada sesama hamba menuju peribadatan
kepada Allah saja. Akhirnya, Allah mengabulkan angan-angannya dan mewujudkan
cita-citanya. Tatkala dinikahi oleh sahabat yang agung yang bernama Ubadah bin
Shamit, mereka keluar untuk berjihad bersama dan Ummu Haram mendapatkan syahid
di sana dalam perang Qabrus.
Anas ra berkata, "Adalah Rasulullah saw
apabila pergi ke Quba', beliau mampir ke rumah Ummu Haram binti Malhan,
kemudian Ummu Haram menyediakan makanan bagi beliau. Adapun suami Ummu Haram
adalah Ubadah bin Shamit. Pada suatu hari Rasululah saw mampir ke rumah beliau,
Ummu Haram pun menyediakan makanan bagi beliau kemudian Rasulullah menyandarkan
kepalanya dan Rasulullah saw tertidur. Tidak berapa lama kemudian beliau bangun
lalu beliau tertawa. Ummu Haram bertanya, "Apa yang membuat anda tertawa
wahai Rasulullah saw?" Beliau bersabda, "Sekelompok manusia dari
umatku diperlihatkan kepadaku, mereka berperang di jalan Allah dengan berlayar
di lautan sebagaimana raja-raja di atas pasukannya atau laksana para raja yang
memimpin pasukannya."
Ummu Haram berkata, "Ya Rasulullah
do'akanlah agar aku termasuk golongan mereka."
Kemudian Rasulullah saw mendo'akan Ummu Haram
lalu meletakkan kepalanya dan melanjutkan tidurnya. Sebentar kemudian beliau
bangun dan tertawa. Ummu Haram bertanya, "Ya Rasulullah apa yang membuat
anda tertawa?"
Rasulullah saw bersabda, "Sekelompok
manusia dari umatku diperlihatkan kepadaku tatkala berperang di jalan Allah
laksana raja bagi pasukannya."
Ummu Haram berkata, "Ya Rasulullah
do'akanlah agar saya termasuk golongan mereka."
Rasulullah saw bersabda, "Engkau termasuk golongan para pemula."
Rasulullah saw bersabda, "Engkau termasuk golongan para pemula."
Anas bin Malik berkata, "Ummu Haram keluar
bersama suaminya yang bernama Ubadah bin Shamit. Tatkala telah melewati laut,
beliau naik seekor hewan kemudian hewan tersebut melemparkan beliau ke tanah
hingga wafat. Peristiwa tersebut terjadi pada perang Qibris, sehingga beliau di
kubur di sana. Ketika itu pemimpin pasukan adalah Mu'awiyah bin Abu Sofyan pada
masa khilafah Utsman bin Affan, semoga Allah merahmati mereka seluruhnya.
Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 27
Hijriyah. Begitulah, Ummu Haram adalah termasuk salah satu dari keluarga mulia
yang setia terhadap prinsip yang dia pegang. Beliau mencurahkan segala
kemampuannya untuk menyebarkan akidah tauhid yang murni. Beliau tidak
mengharapkan setelah itu, melainkan ridha Allah Azza wa Jalla.
Sumber: Nisaa' Haular Rasuuli, Mahmud
Mahdi al-Istanbuli & Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi
Abdullah bin Abbas
Categories :
Dia pemuda tua, banyak bertanya (belajar), dan
sangat cerdas.
Sahabat yang mulia ini mulia segala-galanya,
tidak ada yang ketinggalan. Dalam pribadinya terdapat kemuliaan sebagai sahabat
Rasulullah saw. Dia beroleh kemuliaan sebagai keluarga dekat Rasulullah karena
sebagai anak paman beliau, Abbas bin Abdul Mutthalib. Dia mulia dari sudut ilmu
karena dia umat Muhammad yang amat alim dan saleh.
Nama lengkapnya Abdullah bin Abbas. Dia sangat
alim tentang kitabullah (Alquran) dan sangat paham maknanya. Dia menguasai
Alquran sampai ke dasar-dasarnya, mengetahui sasaran, dan segala rahasianya.
Ibnu Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah.
Ketika Rasulullah saw. wafat, dia baru berumur tiga belas tahun. Dalam usia
sebaya itu, dia telah menghafal seribu enam ratus enam puluh hadis untuk kaum
muslimin yang diterimanya langsung dari Rasulullah dan dicatat oleh Bukhari dan
Muslim dalam kitab sahih mereka.
Setelah Ibnu Abbas lahir ke dunia, bayi yang
masih merah itu segera dibawa ibunya kepada Rasulullah saw. Beliau memasukkan
air liurnya ke dalam kerongkongan bayi itu. Air liur Nabi yang suci dan penuh
berkat itulah yang pertama-tama masuk ke dalam rongga perut anak tersebut,
sebelum ia disusukan ibunya. Seiring dengan air liur Nabi, masuk pulalah ke
dalam pribadi bayi itu takwa dan hikmah. "Dan siapa saja yang diberi
hikmah, sungguh dia telah diberi kebajikan yang banyak." ( Al-Baqarah:
269).
Ketika anak itu meninggalkan usia kanak-kanak
dan mulai memasuki usia tamyiz (usia 6 atau 7 tahun), dia tinggal di
rumah Rasulullah seperti adik terhadap kakak yang saling mengasihi. Dia menyediakan
air wudu beliau apabila hendak wudu. Bila Rasulullah salat, anak itu ikut
salat; bila beliau bepergian, dia membonceng di belakang. Sehingga, Ibnu Abbas
bagaikan bayang-bayang yang senantiasa mengikuti ke mana saja beliau pergi,
atau dia senantiasa berada di seputar beliau. Sementara itu, anak tersebut
dapat menyimpan dalam hati dan pikirannya yang bersih segala peristiwa yang
dilihat dan kata-kata yang didengarnya, tanpa alat tulis menulis seperti yang
kita kenal sekarang.
Ibnu Abbas bercerita mengenai dirinya,
"Pada suatu ketika Rasulullah saw. hendak mengerjakan salat. Aku segera
menyediakan air wudu untuk beliau. Beliau gembira dengan apa yang kulakukan.
Ketika beliau siap untuk salat, dia memberi isyarat kepadaku supaya berdiri di
sampingnya. Tetapi, aku berdiri di belakang beliau. Setelah selesai salat,
beliau menoleh kepadaku seraya bertanya, "Mengapa engkau tidak berdiri
di sampingku?" Jawabku, "Anda sangat tinggi dalam pandanganku,
dan sangat mulia untukku berdiri di samping Anda." Rasulullah menadahkan
tangannya, lalu berdoa, "Wahai Allah, berilah dia hikmah."
Allah memperkenankan doa Rasulullah tersebut.
Dia memberi cucu Hasyim tersebut hikmah, melebihi hikmah ahli-ahli hikmah yang
besar-besar. Tentu Anda ingin tahu, hikmah bentuk apa yang telah dilimpahkan
Allah kepada Abdullah bin Abbas. Marilah kita perhatikan kisah selanjutnya.
Ketika sebagian sahabat memencilkan dan
menghina Khalifah Ali bin Abu Thalib, Abdullah bin Abbas berkata kepada Ali,
"Ya, Amirul Mukminin, izinkanlah saya mendatangi mereka dan berbicara
kepadanya." Kata Ali, "Saya khawatir risiko yang mungkin engkau
terima dari mereka." Jawab Ibnu Abbas, "Insya Allah tidak akan
terjadi apa-apa." Ibnu Abbas masuk ke dalam majlis mereka. Dilihatnya mereka
orang-orang yang sangat rajin beribadah. Mereka berkata, "Selamat datang,
hai Ibnu Abbas. Apa maksud kedatangan Anda kemari?" Jawab Ibnu Abbas,
"Saya datang untuk berbicara dengan tuan-tuan." Sebagian yang lain
berkata, "Katakanlah, kami akan mendengarkan bicara Anda." Ibnu Abbas
berkata, "Coba tuan-tuan katakan kepada saya, apa sebabnya tuan-tuan
membenci anak paman Rasulullah yang sekaligus suami anak perempuan beliau
(mantu Rasulullah), dan orang yang pertama-tama iman dengan beliau?" Jawab
mereka, "Kami membencinya karena tiga perkara." Tanya Ibnu Abbas,
"Apa itu?" Mereka menjawab, "Pertama, dia bertahkim (mengangkat
hakim) kepada manusia tentang urusan agama Allah. Kedua, dia memerangi Aisyah
dan Muawiyah, tetapi dia tidak mengambil harta rampasan dan tawanan. Ketiga,
dia menanggalkan gelar Amirul Mukminin dari dirinya, padahal kaum muslimin yang
mengukuhkan dan mengangkatnya. Kata Ibnu Abbas, "Sudikah tuan-tuan
mendengar Alquran dan hadis Rasulullah yang saya bacakan? Tuan-tuan tentu tidak
akan membantah keduanya. Apakah tuan-tuan bersedia mengubah pendirian tuan-tuan
sesuai dengan maksud ayat dan hadis tersebut?" Jawab mereka,
"Tentu!" Kata Ibnu Abbas, "Masalah pertama, bertahkim kepada
manusia dalam urusan agama Allah. Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kalian membunuh binatang buruan ketika kamu sedang
ihram, siapa saja di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya
ialah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan buruan yang
dibunuhnya menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu."
(Al-Maidah: 95). Saya bersumpah dengan tuan-tuan menyebut nama Allah. Apakah
putusan seseorang tentang hak darah atau jiwa, dan perdamaian antara kaum
muslimin yang lebih penting ataukah seekor kelinci yang harganya seperempat
dirham?" Jawab
mereka, "Tentu darah kaum muslimin dan perdamaian di antara mereka yang
lebih penting." Kata Ibnu Abbas, "Marilah kita keluar dari persoalan
ini."
Kata Ibnu Abbas, "Masalah kedua, Ali
berperang tetapi dia tidak menawan para wanita seperti yang terjadi pada masa
Rasulullah. Mengenai masalah ini, sudikah tuan-tuan mencaci Aisyah, lantas
tuan-tuan halalkan dia seperti wanita-wanita tawanan yang lain-lain. Jika
tuan-tuan mengatakan "Ya," tuan-tuan kafir. Dan, jika tuan-tuan
menjawab, dia bukan ibu kami, tuan-tuan kafir juga. Allah SWT berfirman: "Nabi
itu hendaknya lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri,
dan istri-istri Nabi adalah ibu-ibu mereka." (Al-Ahzab: 6).
"Nah, pilihlah mana yang tuan-tuan suka.
Mengakui ibu atau tidak. Kata Ibnu Abbas, "Ali menanggalkan gelar 'Amirul
Mukminin' dari dirinya. Sesungguhnya ketika Perjanjian Hudaibiyah
ditandatangani, mula-mula Rasulullah menyuruh untuk ditulis, inilah perjanjian
dari Muhammad Rasulullah. Lalu kata kaum musyrikin, "Seandainya kami mengakui
engkau Rasulullah, tentu kami tidak menghalangi engkau mengunjungi Baitullah
dan tidak memerangi engkau. Karena itu, tuliskan nama engkau saja,
"Muhammad bin Abdullah." Rasulullah memenuhi permintaan mereka seraya
berkata, "Demi Allah, aku adalah Rasulullah, sekalipun kalian tidak
mempercayaiku.
"Bagaimana?" tanya Ibnu Abbas, "Tidak pantaskah masalah memakai atau tidak memakai gelar 'Amirul Mukminin' itu kita tanggalkan saja? Jawab mereka, "Ya Allah, kami setuju." Hasil pertemuan Ibnu Abbas dengan mereka (kaum Khawarij) dan alasan-alasan yang dikemukakannya menyebabkan 20.000 orang yang membenci Ali kembali masuk ke dalam barisan Ali. Yang memusuhinya hanya tinggal 4.000 orang.
"Bagaimana?" tanya Ibnu Abbas, "Tidak pantaskah masalah memakai atau tidak memakai gelar 'Amirul Mukminin' itu kita tanggalkan saja? Jawab mereka, "Ya Allah, kami setuju." Hasil pertemuan Ibnu Abbas dengan mereka (kaum Khawarij) dan alasan-alasan yang dikemukakannya menyebabkan 20.000 orang yang membenci Ali kembali masuk ke dalam barisan Ali. Yang memusuhinya hanya tinggal 4.000 orang.
Waktu muda Abdullah bin Abbas mencari ilmu
dengan berbagai cara yang dapat dilakukannya. Waktunya dihabiskan umtuk
menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Mula-mula dia memperoleh ilmu dari mata
air yang mulia, yaitu langsung dari Rasulullah sampai beliau wafat. Setelah
beliau tiada, dihubunginya ulama-ulama sahabat, lalu dia belajar kepada mereka.
Ibnu Abbas pernah bercerita, "Apabila seseorang menyampaikan sebuah hadis
kepadaku yang diperolehnya dari seorang sahabat Rasulullah, maka kudatangi
sahabat tersebut ke rumahnya waktu dia tidur siang. Lalu, aku bentangkan
serbanku dekat tangga rumahnya dan aku duduk di situ menunggu dia bangun.
Sementara itu, angin bertiup memenuhi tubuhku dengan debu tanah. Seandainya aku
minta izin masuk kepadanya, tentu dia akan mengizinkanku. Tetapi, memang aku
sengaja melakukan demikian supaya tidak menganggunya tidur. Ketika dia keluar
dan melihatku dalam keadaan demikian, dia berkata, "Wahai anak paman
Rasulullah. Mengapa Anda sendiri yang datang ke sini? Mengapa tidak Anda suruh
saja seseorang memanggilku. Tentu aku datang memenuhi panggilan Anda!" Jawabku,
"Akulah yang harus mendatangi Anda, ilmu harus didatangi, bukan ilmu yang
harus mendatangi. Sesudah itu kutanyakan kepadanya hadis yang kumaksud."
Ibnu Abbas rendah hati dalam menuntut ilmu. Dia
menghormati derajat ulama. Pada suatu hari Zaid bin Tsabit, penulis wahyu dan
ketua pengadilan Madinah bidang Fiqih, Qira'ah, dan Faraidh,
mendapat kesulitan karena hewan yang ditungganginya bertingkah. Lalu, Abdullah
bin Abbas berdiri ke hadapannya seperti seorang hamba di hadapan majikannya.
Ditahannya hewan kendaraan Zain bin Tsabit. Kata Zaid, "Biarkan saja,
wahai anak paman Rasulullah!" Jawab Ibnu Abbas, "Beginilah caranya
kami diperintahkan Rasulullah terhadap ulama kami." Kata Zaid bin Tsabit,
"Coba perlihatkan tangan Anda kepada saya!" Ibnu Abbas mengulurkan tanganya kepada Zaid,
lalu dicium oleh Zaid. "Begitulah caranya kami diperintahkan Rasulullah
menghormati keluarga Nabi kami, Kata Zaid."
Ibnu Abbas sangat rajin menuntut ilmu sehingga
mencengangkan ulama-ulama besar. Masruq bin Ajda', seorang ulama besar tabi'in
berkata, "Paras Ibnu Abbas sangat elok. Bila dia berbicara, bicaranya
sangat fasih. Bila dia menyampaikan hadits, dia sangat ahli dalam bidang
itu."
Setelah ilmu yang dicarinya sempurna, Ibnu
Abbas beralih menjadi guru mengajar. Rumahnya berubah menjadi jam'iah
(universitas) kaum muslimin. Memang tidak salah kalau kita katakan universitas,
seperti yang kita kenal sekarang. Beda universitas Ibnu Abbas dengan
universitas kita sekarang ialah di universitas kita yang mengajar ada sepuluh
sampai ratusan orang dosen atau profesor. Tetapi, di universitas Ibnu Abbas
yang mengajar Ibnu Abbas seorang.
Salah seorang kawan Ibnu Abbas bercerita,
"Saya berpendapat, seandainya kaum Quraisy mau membanggakan universitas
Ibnu Abbas, memang pantas mereka bangga. Saya lihat orang banyak sudah penuh
berkumpul di jalan menuju ke rumah Ibnu Abbas, sehingga jalan itu sempit dan
tertutup oleh kepala orang banyak. Saya masuk menemuinya dan memberi tahu bahwa
orang banyak sudah berdesak-desak di muka pintu. Katanya, "Tolong ambilkan
saya air wudu!" Lalu dia berwudu dan sesudah itu duduk di ruangan majelis.
Katanya, "Siapa yang hendak belajar Alquran suruhlah mereka masuk."
Saya keluar memberi tahu orangn banyak. Mereka pun masuk, sehingga seluruh
ruangan dan kamar-kamar penuh dengan orang yang hendak belajar Alquran. Apa
saja yang mereka tanyakan dijawabnya panjang lebar. Kemudian berkata kepada
mereka, "Beri kesempatan kawan-kawan yang lain!" Lalu mereka keluar
semuannya. Katanya, "Suruh masuk orang-orang yang hendak belajar tafsir
Alquran dan takwilnya!" Maka, kuumumkan kepada orang banyak, sehingga
mereka masuk pula memenuhi ruangan dan kamar-kamar. Apa yang ditanyakan mereka
dijawabnya sampai mereka puas. Katanya, "Sekarang beri kesempatan pula
kawan-kawan yang lain!" Saya disuruhnya keluar menyilakan orang yang
hendak belajar tentang halal dan haram dan masalah-masalah fikih. Mereka pun
masuk. Segala pertanyaan mereka dijawabnya panjang lebar. Setelah cukup
waktunya, dia berkata pula, "Kini beri kesempatan kawan-kawan yang hendak
belajar faraid dan sebagainya!" Mereka pun keluar, dan masuk pula
orang-orang yang hendak belajar ilmu faraidh. Setelah selesai pelajaran faraid,
disuruh masuk pula orang-orang yang hendak sastra Arab, syi'ir dan kata-kata
arab yang sulit. Kemudian Ibnu Abbas membagi-bagi hari untuk beberapa macam
bidang ilmu dalam beberapa hari, guna mencegah orang berdesak-desakkan di muka
pintu. Umpamanya, sehari dalam seminggu untuk bidang ilmu tafsir, besok ilmu
fikih, besok ilmu peperangan (sejarah peperangan Rasulullah) atau strategi
perang. Sesudah itu ilmu syi'ir, sesudah itu ilmu sastra Arab. Tidak ada orang
alim yang duduk dalam majelis Ibnu Abbas melainkan menundukkan diri kepadanya.
Karena kealiman dan kemahirannya dalam berbagai
bidang ilmu, dia senantiasa diajak bermusyawarah oleh khalifah rasyidah
(bijaksana) sekalipun dia masih muda belia. Apabila Khalifah Umar bin Khattab
menghadapi suatu persoalan yang rumit, diundangnya ulama-ulama terkemuka
termasuk Ibnu Abbas yang muda belia. Bila Ibnu Abbas hadir, Khalifah Umar
memberikan tempat duduk yang lebih tinggi bagi Ibnu Abbas dan Khalifah sendiri
duduk di tempat yang lebih rendah seraya berkata, "Anda lebih berbobot
daripada kami."
Pada suatu ketika Khalifah Umar mendapat kritik
karena perlakuan yang diberikannya kepada Ibnu Abbas melebihi dari ulama yang
tua-tua. Maka, kata Umar, "Dia pemuda tua, dia lebih banyak belajar dan
berhati tenang."
Ketika Ibnu Abbas beralih mengajar orang-orang
tertentu, dia tetap tidak melupakan kewajibannya terhadap orang-orang awam.
Maka, dibentuknya majelis-majelis wa'azh dan tadzkir (pendidikan
dan pengajaran). Di antara pengajarannya, dia berkata kepada orang-orang yang
berdoa, "Wahai orang yang berbuat dosa! Jangan sepelekan akibat-akibat
perbuatan dosa itu, sebab ekornya jauh lebih gawat daripada dosa itu sendiri.
Kalau engkau tidak merasa malu kepada orang lain, padahal engkau telah berbuat
dosa, maka sikap tidak punya malu itu sendiri adalah juga dosa. Kegembiraanmu
ketika melakukan dosa, padahal engkau tidak tahu apa yang diperbuat Allah atas
dirimu adalah juga dosa. Kalau engkau sedih karena tidak dapat berbuat dosa,
maka kesedihanmu itu jauh lebih dosa daripada perbuatan itu. Engkau takut
kalau-kalau angin bertiup membukakan rahasiamu, tetapi engkau sendiri telah
berbuat dosa tanpa takut akan Allah yang melihatmu. Maka, sikap seperti itu
adalah lebih besar dosanya ketimbang perbuatan dosa itu."
"Wahai orang yang berdosa! Tahukah Anda
dosa Nabi Ayyub a.s. Yang menyebabkannya mendapat bala (ujian) mengenai jasad
dan harta bendanya? Ketahuilah, dosanya hanya karena ia tidak menolong seorang
miskin yang minta pertolongannya untuk menyingkirkan kezaliman."
Ibnu Abbas tidak termasuk orang-orang yang
pandai berkata tetapi tidak berbuat. Dia tidak termasuk orang yang pandai
melarang tetapi tidak menghentikan. Abdullah bin Mulaikah bercerita, "Saya
pernah menemani Ibnu Abbas dalam suatu perjalanan dari Mekah ke Madinah. Ketika
kami berhenti di suatu tempat, dia bangun tengah malam, sementara yang
lain-lain tidur karena lelah. Saya pernah pula melihatnya pada suatu malam
membaca ayat ke-19 surah Qaf berkali-kali sambil menangis hingga terbit fajar.
Sebagai kesimpulan, tahulah kita bahwa Ibnu Abbas yang berparas tampan itu
senantiasa menangis tengah malam karena takut akan siksa Allah sehingga air
mata membasahi kedua pipinya.
Ibnu Abbas sampai ke puncak ilmu yang
dimilikinya. Pada suatu ketika musim haji, Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan
pergi haji. Bersamaan dengan khalifah, pergi pula Abdullah bin Abbas. Khalifah
Muawiyah diiringkan oleh pasukan pengawal kerajaan. Abdullah bin Abbas
diiringkan oleh murid-muridnya yang berjumlah lebih banyak daripada pengiring
Khalifah.
Usia Abdullah bin Abbas mencapai tujuh puluh
satu tahun. Selama itu dia telah memenuhi dunia dengan ilmu, paham, hikmah, dan
takwa. Ketika dia meninggal, Muhammad bin Hanafiyah turut melakukan salat atas
jenazahnya bersama-sama dengan para sahabat yang lain-lain serta para pemuka
tabi'in.
Tatkala mereka menimbun jenazahnya dengan
tanah, mereka mendengar sura membaca, "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah
kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridai-Nya. Masuklah ke dalam kelompok
jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke surga-Ku" (Al-Fajr: 27 -- 30).
Sumber: Shuwar min Hayaatis Shahabah,
Dr. Abdur Rahman Ra'fat Basya
Sumanto Gentayangan....?????
Categories :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا
مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ
بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (12)
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari
prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu
mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing
sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging
saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha
Penyayang." (Al-Hujuraat: 12).
Mbah Rinah, nenek berusia 81 tahun, baru saja
meninggal dunia. Ia dikubur di desa Mojotengah, Kemangkon, Purbalingga.
Tiba-tiba warga setempat geger. Belum sampai 24 jam dikubur, mayat mbah Rinah
raib. Terang saja insiden ini melahirkan spekulasi mitos yang tidak
karu-karuan. Teka-teki berakhir ketika polisi menangkap Sumanto, sang pencuri
mayat. Mula-mula Sumanto menggali kuburan dengan tangan kosong pada Sabtu,
(11/1/2003). Pada Ahad dini hari, kain kafan pembungkus mayat baru berhasil
disentuh. Mayat mbah Rinah dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam karung plastik.
Mayat diangkut ke rumah Sumanto dengan sepeda onthel. Sesampainya di rumah,
Sumanto memotong alat vital nenek itu dan membungkusnya dengan kain merah.
Selanjutnya ia memotong-motong mayat seperti memotong daging kambing. Sebagian
dagingnya dibakar, sebagian digulai, dan sebagian dimakan mentah-mentah.
Begitulah Sumanto, sang kanibal dari Purbalingga yang belakangan mencuat. Untuk
ilusi mendapatkan kekebalan dan kekayaan, ia tega melakukan ritual menjijikkan
itu. Gilanya, ia bahkan mengaku telah memakan daging tiga manusia sebelumnya.
Tak terbayang oleh akal sehat. Sebagian warga
menduga ia tidak waras. Adalah warga setempat berteriak histris dan merasa
jijik saat Sumanto melakukan rekonstruksi. "Ini tidak lazim," kata mereka.
Rapat desa juga memutuskan hendak mengasingkan Sumanto dari kampung mereka.
Reaksi warga setempat tidaklah berlebihan. Siapa pun, dari bangsa mana pun,
dari agama apa pun, berkulit apa pun, sulit membenarkan aksi Sumanto. Tak ada
yang berkeberatan jika ia dikatakan gila segila-gilanya. Juga tak ada yang rugi
jika ia harus diasingkan. Tak ada yang sudi berkawan dan bertetangga dengan
orang semacam dia. Itulah mengapa warga setempat mengasingkannya, dan meminta
kepada aparat agar ia dihukum seberat-beratnya. Jika kita ditanya, "Maukah
kalian meniru Sumanto?" Secara koor kita akan menjawab, "Tidak!"
Ei, tapi tunggu dulu. Jawaban itu bukan berarti kita tidak berperilaku seperti
Sumanto. Kok bisa? Ya, di dalam Alquran, Allah menyerupakan perbuatan menggunjing
terhadap muslim (ghibah) dengan memakan bangkai manusia. Persis seperti
yang dilakukan Sumanto.
"Janganlah sebahagian kamu menggunjing
sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya."
Setiap orang waras akan merasa jijik memakan
bangkai manusia, terlebih bangkai saudara sesama muslim. Namun demikian, di
dalam masyarakat gunjing-menggunjing antarsesama sudah seperti lumrah. Padahal,
dalam ayat di atas, menggunjing orang lain disetarakan dengan memakan bangkai
manusia.
Ibnu Katsir menceritakan dari Anas bin Malik
bahwa adalah tradisi bangsa Arab bila bepergian mereka saling melayani. Dalam
sebuah safar, Abu Bakar dan Umar disertai seorang pelayan. Saat keduanya
terjaga dari tidur, sang pelayan belum menyediakan untuk mereka makanan. Beliau
berdua berkata, "Sungguh ia orang mati (kiasan)," kemudian kedua
membangunkannya dan menyeru, "Datanglah kepada Rasulullah dan sampaikan
bahwa Abu Bakar dan Umar mengirimkan salam, serta meminta lauk."
Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya keduanya telah memakan lauk."
[Kontan, Abu Bakar dan Umar kaget], keduanya menghadap Rasulullah dan bertanya,
"Dengan lauk apa kami makan?" Rasulullah menjawab, "Dengan
daging saudara kalian. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh saya
melihat dagingnya berada di antara gigi seri kalian." Keduanya r.a.
lalu berkata, "Mintakan ampun untuk kami wahai Rasulullah!"
Rasulullah menjawab, "Pergilah kepadanya dan mintalah maaf untuk kalian."
Tentu kita tidak seperti Rasulullah di atas,
yang atas karunia Allah dapat melihat daging pada gigi seri bekas menggunjing.
Namun, meski secara hissy (materiil) kita tidak dapat melihat, ayat di
atas menegaskan bahwa secara maknawi, perilaku ghibah diserupakan dengan
memakan daging manusia.
Lantas apakah ghibah itu? Rasululullah
pernah menjawab kepada Abu Hurairah, "Ghibah itu adalah membicarakan
tentang saudaramu terhadap apa yang ia tidak sukai." "Bagaimana
jika padanya terdapat seperti apa yang saya katakan?" tanya Abu Hurairah. "Jika
ada padanya seperti yang anda katakan, maka engkau telah menggunjingnya
(ghibah). Namun, jika tidak ada padanya seperti yang anda katakan, maka engkau
telah membuat kebohongan atas dia." (Tirmizi, hasan sahih)
Suatu ketika Aisyah r.a. berkata kepada Nabi
saw., "Cukuplah bagimu tentang Shafiyah itu begini dan begini."
(Maksudnya Shafiyah itu badannya pendek). Maka Rasulullah saw. bersabda, "Sungguh,
engkau telah mengucapkan sesuatu perkataan, yang sekiranya dicampur dengan air
laut, maka perkataan itu dapat mencampurinya." (Abu Dawud dan
Tirmidzi). Maksudnya, sekiranya perkataan itu bercampur dengan air laut,
niscaya air laut tersebut berbau busuk semua. Padahal, air laut itu tidak akan
busuk lantaran kadar garamnya banyak. Ini menunjukkan betapa dahsyat keburukan ghibah.
Al-Imam an-Nawawi berkata dalam al-Adzkar,
"Adapun ghibah adalah engkau menyebut seseorang dengan apa yang ia
tidak sukai, sama saja apakah menyangkut tubuhnya, agamanya, dunianya, jiwanya,
fisiknya, akhlaknya, hartanya, anaknya, orang tuanya, istrinya, pembantunya,
budaknya, sorbannya, pakaiannya, cara jalannya, gerakannya, senyumnya, muka
masamnya, atau yang selainnya dari perkara yang menyangkut diri orang tersebut.
Sama saja apakah engkau menyebut tentang orang tersebut dengan bibirmu, atau
tulisanmu, isyarat matamu, isyarat tanganmu, isyarat kepalamu atau yang
semisalnya...."
Demikianlah ghibah. Ia dapat meruntuhkan
kehormatan seseorang yang digunjing. Karena, kehormatan tidak hanya aurat,
tetapi kehormatan juga berupa celaan atau pujian. Ketika kita menggunjing
seseorang, hakikatnya kita telah menggerogoti kehormatannya. Padahal, menjaga
kehormatan sesama termasuk inti wasiat Rasulullah dalam khutbatul wada':
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan
kehormatan kalian adalah haram atas kalian seperti halnya keharaman hari kalian
ini." Tidak hanya itu, diakhir khotbah Rasulullah menegaskan, "Ingatlah,
adakah aku sampaikan?" "Ya," jawab para Sahabat. Beliau
kemudian berkata, "Ya Allah, saksikanlah!" (Bukhari dan
Muslim).
Jangan dikira bahwa keharaman zina dan riba
lebih besar daripada keharaman menginjak-nginjak harga diri dan kehormatan
seorang muslim. Dalam sebuah hadis sahih dinyatakan, "Riba itu ada tujuh
lebih cabangnya. Yang paling rendah tingkatannya ialah seperti seorang
laki-laki yang berzina (menikahi) dengan ibunya sendiri dibawah tirai Kakbah.
Sedangkan yang paling tinggi tingkatannya ialah seperti seorang muslim yang
mencemarkan harga diri saudaranya muslim." (Al-Albany, al-Jami'us
Shaghir).
Bukan berarti setiap menyebut aib sesama
dilarang. Dalam konteks tertentu, penyebutan aib seseorang dapat dibenarkan,
seperti disebutkan Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, misalnya
mengadukan kezaliman seseorang pada pihak berwenang dalam rangka meminta fatwa
(istifta'), dalam rangka jarh wat-ta'diel, dalam rangka
musyawarah mencari jodoh, menyebut kejelakan orang yang terang-terangan berbuat
maksiyat, dan menyebut seseorang dengan gelaran yang ia masyhur dengannya.
Jika Sumanto Purbalingga yang suka makan tubuh
orang tengah menghadapi proses hukum, "Sumanto" dalam makna lain
tangah bergentayangan di tengah kita. Semoga kita dapat menjaga lisan dari
menggunjing sesama, sehingga tidak masuk dalam kafilah "Sumanto". Nastaghfirullah
al-adhim. Wallahu a'lam
Jejak-jajak IBLIS
Categories :
فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ (20) وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ (21) فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ (22)
Maka setan membisikkan (pikiran jahat) kepada
keduanya untuk menampakkan aurat keduanya yang tertutup kepada keduanya, dan
setan berkata: 'Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon itu melainkan
supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal
(dalam surga)'. Dia bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya termasuk
orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.' Dia membujuk keduanya dengan
tipu daya...." (Al-A'raf: 20--22).
Adam dan Hawa tinggal di surga. Iblis iri
dibuatnya. Ia menyimpan dendam kesumat terhadap keduanya. Iblis pun berjanji
akan mendongkel mereka dari surga. Tidak hanya itu, iblis juga berjanji
menggelincirkan anak cucu Adam sampai kiamat. Demi ambisinya, iblis bahkan
meminta dispensasi kepada Allah untuk bisa hidup sampai akhir zaman. Ia pun
mencari celah untuk menggoda Adam dan Hawa. Celah itu akhirnya ia temukan.
Iblis membujuk keduanya agar mendekati pohon larangan. Pohon yang Allah
melarang keduanya untuk mendekati dan memakan buahnya. Keduanya tertipu, mereka
mendekati dan memakan buahnya. Iblis tertawa terbahak. Akhirnya, mereka semua
dikeluarkan dari surga.
Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada
keduanya untuk menampakkan aurat keduanya yang tertutup kepada keduanya....
Setan tahu jika keduanya mendekati pohon larangan, aurat mereka akan tampak,
karena mendekatinya adalah larangan dan melanggar larangan adalah maksiyat
kepada Allah. Fawaswasa lahuma? (Iblis kemudian membisiki keduanya).
Waswasah adalah bisikan hati dan suara yang pelan. Artinya, iblis
melakukannya secara halus, melalui bisikan hati, dan kadang tidak terdeteksi.
Setan berkata, "Tuhanmu tidak melarangmu
dari mendekati pohon itu, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat
atau tidak menjadi orang yang kekal di surga."
Pintu tipu daya terbesar adalah ketika iblis
berhasil mengidentifikasi keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga.
Demikian dikatakan oleh Ibnu Qoyyim. Keinginan?, itulah yang banyak menjadi
pintu tipu daya setan. Seperti maklum, setan menggoda Anak Adam melalui aliran
darah. Ia mencapai nafsu manusia dengan merasuk dan menanyainya, termasuk
menanyai apa yang disukai dan apa yang tak disukai; apa yang diingini dan apa
yang tak diingini. Anak Adam banyak terperdaya melalui pintu ini.
Setelah iblis berhasil mengendus keinginan
moyang kita, ia menerapkan politik berikutnya. Apa itu? ia berkedok menjadi
penasihat bagi keduanya. Tidak tanggung-tanggung, untuk meyakinkan Adam dan
Hawa, ia harus bersumpah dengan nama Allah. Untaian kalimatnya pun dibuat
simpatik, Waqaasamahumaa innii lakumaa la-minan-naasihiin (Dia
bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi
nasehat kepada kalian berdua....').
Sebuah ungkapan yang membuai, Ada penegasan
dengan sumpah (waqaasamahumaa) , ada penegasan dengan kata sesungguhnya
(inni), unsur objek dikedepankan dari subjek (lakumaa sebelum
naasihin) yang mengandung makna pengkhususan, sehingga ayat tersebut bisa
bermakna, "Nasihatku kuberikan khusus untuk kalian berdua, dan manfaatnya
kembali kepada kalian berdua, bukan kepadaku."
Pekerjaan menasihati juga diungkapkan dengan isim
fa'il yang menunjukkan sifat, dan bukan fi'il yang menunjukkan
kejadian yang baru terjadi, sehingga ia dapat dimaknai: memberikan nasihat
adalah sifat, watak, dan profesiku, bukan hal yang bersifat insiden.
Iblis juga menggambarkan dirinya sebagai salah
satu dari banyak penasihat (laminan-naasihin), dengan begitu seolah dia
berkata, "Banyak orang menasihatimu dalam hal ini, sedangkan aku hanya
salah seorang dari mereka." Ini serupa dengan ungkapan, "Semua orang
sependapat denganku dalam masalah ini, dan aku hanyalah salah seorang yang
menyuruhmu berbuat begitu."
Singkatnya, iblis menggunakan politik
meyakinkan, membesarkan hati, dan memberikan solusi untuk sebuah tindakan
membohongi, menipu, dan memperdaya. Untuk meyakinkan, ia tampil sebagai pemberi
nasihat atau konsultan profesional, yang pendapatnya diklaim mewakili pendapat
kebanyakan. Bahkan, untuk menipu Adam dan Hawa, Iblis perlu menjuluki pohon
larangan dengan pohon kekekalan, seperti dalam firman Allah, "Setan
berkata: 'Wahai Adam, maukah kutunjukkan kepadamu pohon kekekalan (syajaratul
khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa'?" (Thaha: 120).
Politik Iblis banyak ditiru pengikut-pengikutnya.
Termasuk pengikutnya dari golongan manusia. Ada politik "penghalusan"
semacam di atas. Kemungkaran banyak dijuluki dengan nama cantik. Judi dinamakan
adu ketangkasan. Dahulu, judi bahkan dinamakan sumbangan dana sosial; pelacur
dijuluki wanita idaman; riba disebut bunga; pengingkaran terhadap ayat
dinamakan kontekstualisasi; penyelewengan Alquran diklaim membumikan Alquran;
pembantaian penduduk sipil disebut penegakan demokrasi. Memerangi Islam disebut
memerangi teroris, dan seterusnya.
Mendompleng keinginan orang juga lazim
digunakan para pengikut setan. Jika mereka bermaksud mempengaruhi orang, agar
maksud jahatnya terwujud, mereka memulai menyinggung keinginan, kemauan, dan
kebutuhan orang yang dipengaruhi, seperti keinginan Adam dan Hawa untuk kekal
di surga. Kadang "singgungan" itu berupa rangsangan untuk menuju
keinginan, kadang keinginan itu sendiri yang dipenuhi sebagai semacam
"suapan". Betapa banyak misionaris yang membujuk umat Islam dengan
kedok bantuan-bantuan kemanusiaan, terutama saat mereka tertimpa musibah atau
terdesak kebutuhan. Juga betapa sering bangsa Barat memperalat pemerintahan
negeri-negeri Islam untuk memerangi orang Islam dengan iming-iming yang
menggiurkan atau yang lazim disebut dengan politik stick and carrot.
Sebagaimana iblis berkedok menjadi penasihat
profesional, para pengikutnya di era modern juga demikian. Penasihat yang
memberikan arahan dan solusi. Jika iblis melegalisasi profesionalismenya dengan
sumpah atas nama Allah, dan dengan penguatan-penguatan lain, para penasihat
modern tampil dengan performa yang meyakinkah, kredibel, bonafid, dan
sejenisnya karena sebelumnya memang telah diopinikan demikian. Maka, ketika
sebuah negara sakit, mereka tampil menjadi dokter. Orang sakit tentu susah dan
kurang etis jika membantah sang dokter, tak peduli diagnosanya keliru, juga tak
peduli obat yang diberikan racun sekalipun. Betapa banyak negeri yang sami'na
waata'na didikte oleh lembaga semacam IMF dengan dalih penyelamatan,
meskipun sesungguhnya penjerumusan.
Jika setan suka mengatasnamakan orang banyak
(sesungguhnya aku salah satu pemberi nasihat), setan modern demikian juga.
Untuk menjustifikasi kemauannya, ia perlu menyatakan bahwa ia didukung oleh
banyak pihak. Meski kadang dukungan tersebut lebih bersifat klaim, misalanya
penganugerahan nobel perdamaian dan sejenisnya. Bukankah pada era modern opini
media massa yang membentuk fakta dan bukan fakta yang membentuk opini? Contoh
menarik dewasa ini adalah daftar kelompok teroris versi PBB yang diklaim atas
masukan banyak negara, seolah daftar tersebut mewakili aspirasi mayoritas
penduduk dunia.
Akhirnya, marilah kita berlindung kepada Allah
dari tipu daya setan, seperti diajarkan Allah dalam Alquran, "Katakanlah:
'Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja
manusia. Sembahan manusia. Dari kejahaan bisikan setan yang biasa bersembunyi.
Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari golongan jin dan
manusia'." (An-Naas: 1--6). (Abu Zahrah).
Langganan:
Postingan (Atom)
